T2GM.NET

Welcome to Tree Tag Grand Master Forum (discussion board for 3tag strategy guide, replay, download, tip & trick)
It is currently Wed Oct 21, 2020 9:34 am

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 1 post ] 
Author Message
 Post subject: (cerpen)A Soldier's Diary
PostPosted: Tue Apr 10, 2007 9:51 am 
Offline
Site Keeper

Joined: Sun Apr 01, 2007 9:04 pm
Posts: 571
Location: Cage of the Past on Jakarta
Entahlah ini cerita termasuk genre apa.. kisah yg menceritakan mentalitas para tentara, cerita ini pada halaman awal pertengahan kurang menarik tp gw saranin baca ampe selesai krn klimaks dan endingnya cukup menyentuh. Cerita ini, sekali lg dibuat oleh Excelsio, tetangga gw.

Pada suatu malam di sebuah padang rumput, terlihat beberapa orang tentara sedang mengendap-endap. Suara ledakan terdengar menggelegar tak jauh dari posisi pasukan itu berada. Untuk sesaat, mereka diam sambil memasang telinga. Setelah yakin tak ada musuh di sekitarnya, mereka-pun kembali melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba terdengar suara senapan, dan dua orang tentara yang berdiri paling depan terjatuh. Tentara yang lain segera tiarap, dan melepaskan tembakan balasan ke arah yang diperkirakan sebagai tempat pasukan musuh bersembunyi. Beberapa saat lamanya suara senapan terus terdengar, hingga akhirnya pemimpin mereka memerintahkan untuk menghentikan tembakan. Semua kembali pada posisi berjaga-jaga. Tiba-tiba dari balik semak, muncul seseorang. Hampir saja mereka melepaskan tembakan ke arah orang tersebut, ketika orang itu berkata, “Jangan tembak ! Ini aku.”
Pemimpin mereka menghela nafas lega.
“Rupanya kamu, Fox. Sepertinya kamu telah menghabisi musuh yang mengepung kita.”
Fox, seorang gadis belia anggota pasukan itu, menjawab dengan nada datar, “Itu sudah tugasku.”
Teman-temannya menyambut sambil memujinya, tetapi Fox terlihat cuek; Wajahnya tidak memperlihatkan ekspresi apapun.
“Ayo, kita harus melanjutkan perjalanan kita !”
Mendengar komando pemimpinnya, mereka kembali mengendap-endap di kegelapan malam untuk menyelesaikan tugasnya.

Fox sedang berdiri tak jauh dari pos penjagaan tempatnya bermarkas, mengamati medan tempur. Suara ledakan terdengar dari kejauhan, diiringi asap yang membumbung tinggi. Ia mengambil sebatang rokok dari sakunya, lalu menyelipkannya di bibirnya. Baru saja ia hendak menyalakan pemantik api otomatis, ketika tiba-tiba seseorang mengambil rokok dari bibirnya.
“Tidak baik gadis di bawah umur sepertimu merokok, Fox !”
Fox menengok; Ternyata yang menegurnya adalah pimpinan pasukannya.
“Lalu Kapten Alec sendiri, mengambil rokok dari seorang gadis di bawah umur, apakah termasuk perbuatan baik ?”
Alec tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Fox.
“Wahahahaha... Ternyata bisa juga kamu membalas kata-kataku.”, lalu ia mengembalikan rokok yang diambilnya kepada Fox, “Jangan terlalu sering merokok, Fox, tidak baik untuk kesehatan. Kamu bisa mati dalam usia masih sangat muda.”
Fox tersenyum sinis, “Bukankah di peperangan ini, kita semua akan mati muda, kapten ?”
“Kamu ini, apakah tidak punya harapan untuk hidup dalam dunia yang damai ?”
“Kapten tentunya tahu, alasanku untuk tetap bertahan hidup.”
Alec memandang wajah Fox yang tanpa ekspresi, lalu menghela nafas panjang.
“Aku selalu kehabisan kata-kata kalau bicara denganmu. Sudahlah, aku hanya ingin berterima-kasih, tadi kamu telah menolong kita semua ketika dikepung.”
“Sudah kukatakan, itu sudah tugasku.”
“Fox, beristirahatlah. Tugas tadi menguras seluruh tenaga kita, kamu tentunya kelelahan. Biar aku yang melanjutkan tugas jagamu.”
“Tidak perlu, aku...”
“Fox, ini perintah !”, dengan tegas, Alec memotong kata-kata Fox, “Aku memerlukanmu untuk tugas-tugas yang lebih penting, jadi kamu harus beristirahat untuk memulihkan tenagamu !”
Fox tertegun melihat ketegasan kaptennya. Akhirnya ia mengangguk lalu berjalan pergi, tetapi baru beberapa langkah ia kembali berhenti.
“Kapten, kedamaian itu seperti apa ?”
“Eh ?”, Alec terkejut mendengar pertanyaan Fox, “A.. aku tidak bisa menjelaskannya. Kalau menurutku, kita bisa mengetahui arti kedamaian jika kita sudah merasakannya.”
“Begitu.”, nada suara Fox tetap datar seperti biasa, “Terima kasih atas penjelasannya.”
Lalu Fox berlalu. Alec sambil memandang kegelapan langit, menggelengkan kepalanya.
“... Andai aku bisa memperlihatkan indahnya kedamaian padamu ...”
Teringat pada pertanyaan Fox, ‘Kapten tentunya tahu, alasanku untuk tetap bertahan hidup.’, Alec kembali menghela nafas panjang.
“... Kamu bertahan karena rasa benci yang mendalam.
Tetapi, api kebencian yang sama bisa menghancurkan dirimu, Fox ...”
Alec menutup wajahnya.
“... Jika saat itu tiba, apa yang dapat kulakukan untuk menolongmu ? ...”

“Pasukan musuh menyerang !”
Sirine tanda bahaya meraung-raung di seluruh penjuru kota, sementara banyak orang berusaha untuk menyelamatkan diri. Seorang anak perempuan, dengan usia sekitar tujuh – delapan tahun, berdiri kebingungan di tengah-tengah kekacauan tersebut.
“Karin, cepatlah kemari ! Kita harus segera bersembunyi.”
Gadis kecil bernama Karin itu menengok ke arah datangnya suara. Di pojok jalan, ada seorang wanita muda didampingi seorang laki-laki bertubuh tegap sedang menunggunya.
“... Itu papa dan mama ...”
Tanpa menunggu lagi, Karin segera berlari menghampiri kedua orang tuanya. Bersama-sama, mereka lalu berlindung di ruang bawah tanah sebuah rumah kosong. Mereka, bersama dengan ratusan warga kota lainnya, menunggu dengan tegang. Di luar, terdengar pertempuran antara pasukan yang menjaga kota dengan pasukan musuh. Suara senapan yang diselingi oleh ledakan terus terdengar selama sekitar satu jam, hingga akhirnya suasana di luar begitu sunyi. Perlahan-lahan penduduk mulai keluar dari tempat persembunyiannya; Demikian pula Karin dan kedua orang tuanya. Tetapi baru beberapa langkah mereka berjalan keluar, ketika tiba-tiba muncul pasukan musuh.
“Gawat, rupanya pasukan kita kalah ! Segera berpencar !”
Tanpa memperdulikan bahwa orang yang berlarian hanyalah warga sipil yang tidak bersenjata, tentara musuh melepaskan tembakan membabi buta. Korban berjatuhan, mayat bergelimpangan di mana-mana, dan darah berceceran baik di jalan maupun di dinding-dinding bangunan. Karin dan kedua orang tuanya terus berlari, hingga sebuah peluru menerjang tubuh Sang ayah.
“Alvin !”, wanita itu langsung memeluk tubuh suaminya yang sudah bersimbah darah.
Beberapa tentara berjalan mendekat. Melihat situasi semakin tidak menguntungkan, Sang ibu mendorong Karin kecil hingga masuk ke dalam saluran pembuangan.
“Maafkan mama, sayang. Semoga kamu bisa bertahan hidup.”
“MAMA !”
Fox terbangun. Air mata mengalir di pipinya, dan keringat bercucuran membasahi tubuhnya.
“... Mengapa aku kembali teringat akan masa laluku ? Papa meninggal, dan mayatnya bersama dengan mayat penduduk lainnya, dipajang sebagai tontonan mengerikan, sementara mama...
Ia melihat keluar jendela dengan pandangan penuh kebencian.
“... Aku takkan memaafkan perbuatan mereka ! ...”

Beberapa hari kemudian, di ruang rapat sedang diadakan briefing tugas berikutnya.
“Tentara yang ditawan berada di daerah tenggara perkampungan itu. Jackal dan Rex bersiaga di sekitar gerbang barat. Ingat, tugas kalian berdua sangat penting, sebab kita akan melarikan diri dari gerbang tersebut. Karl dan Stieger akan mengalihkan perhatian musuh di arah utara setelah mendapat tanda dariku. Lalu aku, Fox dan Phyton masuk dari tenggara dan bertemu dengan informan serta membebaskan para tawanan. Apakah kalian sudah paham ?”
Fox dan tentara lainnya mengangguk.
“Ingat, tugas kali ini sangat berat, karena kita harus dapat membedakan antara pasukan musuh dengan penduduk sipil yang tidak bersenjata. Juga ada kemungkinan tentara musuh menyamar menjadi penduduk sipil. Jadi, kalian harus sangat waspada, jangan lengah sedikit-pun !”
Lalu mereka segera bersiap-siap. Sekitar pukul empat sore, mereka sampai di daerah yang dituju; Sebuah perkampungan padat penduduk di daerah Yukon, negara musuh mereka. Tugas mereka adalah membebaskan beberapa tawanan yang ditahan di antara rumah penduduk.
“Kita akan masuk ke dalam perkampungan dengan menyamar sebagai pengembara. Berhati-hatilah, jangan sampai penyamaran kalian ketahuan !”
“Siap !”
Lalu operasi pembebasan dimulai. Fox bersama dengan Phyton mengikuti kapten mereka menuju gerbang perkampungan bagian tenggara. Pemeriksaan yang dilakukan tentara musuh sangat ketat; Mereka tidak hanya memeriksa surat-surat, tetapi juga dilakukan penggeledahan.
“Kapten, apa Anda yakin kita bisa melewati pos pemeriksaan dengan lancar ?”, Phyton tampak ragu.
“Tenang saja. Biar aku yang menanganinya.”
Ketika sampai pada giliran mereka akan diperiksa, tiba-tiba Alec meninju Phyton hingga terjatuh.
“Kurang ajar ! Jika kau berani menyentuh adikku lagi, akan kubunuh kamu !”
Phyton yang masih terkejut akibat ulah kaptennya, hanya terdiam kebingungan.
“Apa lagi ?! Masih nggak mau ngaku, kamu sudah memegang-megang pinggul adikku ini ?!”, Alec menarik Fox mendekat ke dirinya, “Dasar Khalaist sial !”
(Khalaist: suku pengembara Khala yang berasal dari dataran tinggi Rhien, daerah di utara Podinc, negara asal mereka).
Mendengar kata-kata Alec, penjaga gerbang langsung menatap tajam ke arah Phyton.
“Khalaist katamu ? Jangan-jangan, orang ini mata-mata Podinc !”
“Mungkin saja ! Saat ini banyak orang keluar masuk daerah perbatasan, mungkin saja hal itu dimanfaatkan oleh pasukan Podinc untuk menyusupkan mata-matanya.”
Dalam waktu singkat, Phyton yang tidak mengerti apa-apa segera ditangkap sementara Alec dan Fox bisa melewati pos pemeriksaan dengan mudah.
“Kapten, mengapa Anda tega mengorbankan Phyton agar kita bisa masuk ?”
“Mengorbankan ? Tidak juga kok. Orang yang tadi membawa Phyton pergi, dialah informan kita. Sekarang kita akan menunggunya di pasar.”
Pasar yang terletak tidak terlalu jauh dari gerbang tenggara itu, ramai sekali dipenuhi oleh para pedagang dan pembeli; Banyak di antara mereka merupakan pengelana yang berkunjung ke perkampungan tersebut. Mereka pergi ke toko yang menjual cinderamata khas daerah itu, dan berpura-pura sebagai calon pembeli. Tak lama kemudian, informan tadi juga masuk ke dalam toko dan memberi kode pada Alec. Ia keluar dari toko, diikuti oleh Alec dan Fox. Mereka pergi ke sebuah rumah kecil yang terletak di pinggir perkampungan. Phyton yang sedang menunggu mereka di sana, langsung menyerang Alec.
“Kapten, mengapa tidak mengatakan padaku mengenai rencana ini ?! Tadi aku benar-benar bingung dan takut ! Dan tadi juga, mengapa kapten sungguh-sungguh meninjuku ? Gusiku sampai berdarah !”
Alec tersenyum, “Maaf, Phyton. Kalau aku beritahu kamu dulu, tentunya penyamaran kita akan dengan mudah diketahui mereka, karena kamu tidak pandai berpura-pura. Dan itu pula sebabnya aku benar-benar meninjumu.”
Mendengar jawaban kaptennya, Phyton hanya mendengus dengan kesal.
“Sudahlah. Bukankah yang terpenting kalian sudah melewati pos penjagaan ? Lebih baik, kita sekarang memusatkan perhatian pada usaha penyelamatan.”
Mereka mengangguk, lalu informan itu memberikan rincian yang berhubungan dengan tempat para tawanan ditahan.

Rencana yang disusun sebagai berikut : Pertama-tama Fox akan menghabisi semua penjaga yang menjaga bangunan tempat para tahanan berada. Lalu Alec dan Sang informan akan menyusup ke dalam bangunan sementara Phyton dan Fox berjaga-jaga.
Bangunan tempat para tahanan disekap terletak tepat di pusat kota, dan tepat di antara rumah penduduk. Bentuk bangunan itu seperti sebuah benteng kecil dengan tiga menara jaga; Di bagian depan terdapat satu menara, dan bagian belakang terdapat dua menara lainnya. Fox, dengan hanya berbekal sebilah pisau tentara, membunuh satu per satu penjaga, baik yang sedang berpatroli di sekitar bangunan maupun yang ada di puncak menara jaga. Setelah mendapat tanda, Alec dan informan itu segera mendatangi Fox untuk menyamar dengan seragam tentara yang telah dibunuh oleh Fox. Lalu Alec dan informan itu menyusup melalui pintu belakang, sementara Phyton dan Fox berjaga-jaga di menara; Phyton menara di bagian depan, sedangkan Fox di belakang.
“Di manakah para tawanan itu ditahan ?”
“Di ruang bawah tanah. Mengenai penjaga pintunya, biarlah aku yang mengurusnya.”
Alec menunggu di dekat tangga ruang bawah tanah, sementara informan itu berbincang-bincang dengan penjaga pintu penjara. Setelah beberapa lama, penjaga itu mempersilahkan mereka masuk ke lorong penjara, lalu ia pergi.
“Tenang saja. Disini dengan menggunakan uang, segalanya pasti beres.”
Alec tersenyum. Mereka mengambil senter dan berjalan menuju sel tahanan paling ujung. Alec sangat terkejut, melihat keadaan para tawanan yang berada dalam keadaan sangat menyedihkan; Tubuh mereka begitu kurus, sampai tulang-tulang tubuhnya terlihat. Wajah mereka tampak pasrah menunggu nasib. Ruang penjara begitu pengap dan gelap, bahkan tidak sedikit kecoak dan belatung di sana.
“Keterlaluan ! Beginikah mereka memperlakukan para tawanan perang ?! Apa ini perbuatan manusia ?!”
Informan itu menghela nafas panjang, “Tuan Alec, sekarang Anda mengerti, mengapa saya rela mengkhianati bangsa dan negara saya sendiri ? Karena apa yang Anda rasakan, juga dirasakan oleh saya. Melihat mereka yang diperlakukan seperti sampah, hati saya menjerit.”
“Aku sangat berterima kasih, ternyata masih ada orang yang memiliki nurani di negara ini. Ayo, kita harus segera menolong mereka !”
Mereka membuka pintu sel tahanan, lalu Alec berkata dengan pelan, “Kalian jangan ribut, kita akan segera pulang.”
Mendengar kata-kata Alec, wajah para tawanan langsung menjadi cerah; Ternyata mereka masih memiliki harapan ! Walau tubuh mereka sangat lemah, tetapi mereka berusaha bangkit dan berjalan dengan tertatih-tatih. Tiba-tiba…
“Hey, apa-apaan ini ?!”
Beberapa tentara musuh berdiri di depan pintu lorong penjara. Alec melepaskan tembakan, dan dua di antaranya tepat sasaran. Dua orang musuh jatuh bersimbah darah. Mereka melepaskan tembakan balasan. Alec dan para tawanan segera berlindung di dalam sel. Tetapi rupanya informan itu terkena tembakan.
“Tuan Alec, saya.. akan membuka jalan keluar. Tolong.. berjanjilah pada saya, selamatkanlah.. mereka !”
“Eh ? A.. apa yang… ?”
Belum sempat Alec bertanya lebih lanjut, orang itu berlari menuju tempat para tentara musuh berada. Peluru yang dilepaskan tentara musuh dalam sekejap bersarang di tubuhnya. Orang itu menarik pin geranat tangan dari sakunya, dan terdengarlah suara ledakan dahsyat. Bagian depan bangunan itu rubuh hampir separuh. Alec terbengong melihat kenekatan orang itu.
“Kau.. mengorbankan diri bagi kami ? Padahal kami.. sebenarnya musuhmu ?”
Alec menarik nafas dalam-dalam, lalu memberi komando, “Ayo, kita harus pergi dari sini ! Jangan sia-siakan pengorbanan teman kita !”
Phyton dengan cepat membantu para tawanan, sementara Alec melepaskan tembakan dan Fox, dengan kelincahannya menyerang tentara musuh dengan pisaunya. Dengan menggunakan sebuah truk yang sudah disiapkan, mereka pergi menuju gerbang barat sambil melepaskan tanda agar Karl dan Stieger mengalihkan perhatian musuh dari utara. Tetapi, apa yang menunggu di gerbang barat, membuat semua orang terkejut. Pasukan musuh bersenjata lengkap berdiri dalam posisi siap menyerang, bahkan ada dukungan tank dan jeep tempur.
“A.. apa-apaan ini ?! Me.. mengapa mereka bisa mengetahui… ?”, kata-kata Alec terputus ketika melihat seseorang yang sedang berdiri sambil tersenyum di antara pasukan musuh; Dia adalah Jackal !

“Jackal ! Kau.. mengkhianati kami ?!”
Sambil tersenyum mengejek, Jackal berkata, “Daripada disebut pengkhianat, aku lebih suka disebut pembelot. Karena, seorang pembelot berarti orang yang melihat peluang lebih baik untuk memperbaiki hidupnya.”
“Kau... !”, Alec hendak maju, tetapi tembakan tentara musuh yang mengarah tepat ke tanah di depan kakinya menghentikan langkahnya.
“Kapten Alec, aku bukanlah orang yang tidak tahu berterima kasih. Kuberi kesempatan pada kalian; Apabila kalian bersedia bersumpah untuk membela negara Yukon, maka kalian bukan hanya akan dibebaskan, tetapi juga hidup kalian akan dijamin oleh pemerintah Yukon. Apa Anda setuju dengan ideaku ini, Kapten Alec ?”
“Hanya orang gila yang tidak punya hati nurani yang dapat berpikir seperti itu. Dan kamu adalah salah satunya, Jackal !”
Mendengar jawaban Alec, Jackal menggelengkan kepalanya.
“Mudah saja bagiku untuk menghabisi kalian di sini, tetapi aku bukanlah orang yang tidak punya nurani seperti yang Anda katakan. Ok, aku akan mencoba membantu Anda berpikir lagi, kapten.”, ia mengangkat tangannya, dan beberapa orang tentara musuh maju ke depan sambil menyeret Rex dan Karl. Kondisi keduanya sangat memprihatinkan; Sekujur tubuh mereka penuh luka, tak terkecuali wajahnya, dan lengan serta kaki keduanya terikat.
“Sayang Stieger dapat melarikan diri, tetapi pastilah tak lama lagi ia juga akan tertangkap. Nah, bagaimana kapten, apa Anda bisa berpikir lebih jernih sekarang ?”
Dengan dingin, Jackal mengeluarkan pistolnya dan menembak kaki kanan Rex.
“ARGH !”, Rex meronta kesakitan.
“He.. HENTIKAN ! Kau.. benar-benar biadab, Jackal. Padahal kita sudah mengalami suka duka bersama. Apa kau masih pantas menyebut dirimu manusia ?!”
“Lho, bukankah aku cukup baik, memberi kalian kesempatan ? Kapten saja yang menolak kesempatan yang kuberikan. Jika anak buah Anda sampai menderita dan mati, salahkan saja diri Anda sendiri, kapten.”
Alec hanya dapat menahan geram. Tetapi ia sadar, ia tidak mempunyai banyak pilihan. Tiba-tiba Rex berkata, “Kapten, jangan perdulikan kami ! Pokoknya, jangan mau mengikuti keinginan pengkhianat ini !”
Sebuah tendangan mengenai pelipis Rex hingga berdarah.
“Huh, sok jadi pahlawan ! Kamu tahu Rex, dari dulu aku memang sudah tidak suka padamu. Kamu selalu saja sok baik dan ramah, padahal di dalam hati kau mengejek dan menghina orang yang kemampuannya lebih rendah darimu.”, lalu Jackal menengok kembali ke arah Alec, “Jadi, bagaimana keputusan Anda, kapten ?”
Wajah Alec tegang. Sebenarnya ia masih tetap pada keputusannya, tetapi sebagai seorang atasan, ia bertanggung jawab atas keselamatan anak buahnya.
“Masih belum bisa memutuskan juga ? Kalau begitu, ucapkan selamat tinggal pada salah seorang anak buah Anda, kapten.”
Sebuah peluru tepat mengenai kepala Rex; Ia mati tanpa sempat menjerit. Dengan senyum dingin tanpa perasaan, Jackal berkata santai, “Seharusnya kau berterima kasih kepadaku, Rex. Aku memberimu kematian yang cepat dan tanpa rasa sakit, hahaha...”
Alec meremas tangannya sendiri. Walau melihat anak buahnya mati di depan matanya sekalipun, ia tetap tidak berdaya.
“Ayo cepatlah, aku tidak punya banyak waktu. Apa perlu aku melepaskan tembakan lagi ?”
Akhirnya, dengan menunduk Alec berkata, “Aku memang bukan atasan yang baik bagi kalian. Aku sendiri tidak akan mengikuti keinginan bajingan ini, tetapi jika ada di antara kalian yang mau mengikutinya, aku tidak akan menahan kalian. Siapa yang tetap ingin bersamaku, silahkan tetap di sini, dan siapa yang ingin berpindah pihak, silahkan buang senjata kalian dan jalan ke seberang.”

Mereka semua terdiam mendengar kata-kata Alec. Tiba-tiba salah seorang dari tawanan yang dibebaskan, mulai bergerak menuju posisi pasukan musuh. Beberapa orang temannya juga mengikutinya.
“Bagus, bagus. Kalian memang sudah bisa memilih, mana yang lebih baik bagi kalian.”
Akhirnya, yang tetap berdiri bersama Alec tinggal Fox dan Phyton, serta 3 orang tawanan.
“Rupanya kalian ingin menjadi martir ya ? Baiklah, aku akan mengabulkan permintaan kalian, dasar orang-orang bodoh !”
Baru saja Jackal mengangkat tangannya, ketika tiba-tiba Fox membuang pisaunya lalu berjalan menuju pasukan musuh. Alec dan Phyton sangat terkejut melihat tindakan Fox.
“Fox, apa kau.. juga akan mengkhianati kami ?!”
Fox hanya menengok sesaat ke arah mereka, sebelum akhirnya ia meneruskan langkahnya.
“Wah wah wah, kasihan sekali Anda, kapten. Bahkan anak kesayanganmu sendiri mengkhianati dirimu, bukankah ini sudah menunjukkan kegagalan Anda menjadi seorang pemimpin ?”
Sementara Jackal tertawa keras-keras, tiba-tiba terdengar sebuah ledakan dahsyat dari arah belakang pasukan musuh. Dalam sekejap, keadaan menjadi kacau. Tentara musuh tidak tahu serangan itu berasal dari mana, jadi mereka hanya dapat menembak ke sembarang tempat. Sementara Alec dan Phyton tidak berdiam diri. Mereka berlindung lalu melepaskan tembakan ke arah tentara musuh yang sedang kebingungan. Tetapi, yang sebenarnya membantai banyak tentara musuh, adalah Fox. Ia terus membunuh musuh dengan tangan kosong. Akhirnya suara tembakan dan ledakan tidak lagi terdengar. Alec, Phyton dan para tawanan yang selamat keluar dari persembunyian mereka. Di tengah kepulan asap, Fox berdiri sambil menahan Jackal dari belakang.
“Fox, kamu tadi.. hanya berpura-pura ?”
Fox tetap diam, tidak menjawab.
“Bodohnya aku. Seharusnya aku sadar, bahaya sekali membiarkan kamu berada dekat kami.”
Ketika Alec sudah mendekat, Fox melemparkan Jackal ke depan kaki Alec.
“Jackal, kamu bukan saja telah mengkhianati kepercayaan kami padamu, tetapi juga telah membunuh temanmu sendiri ! Seorang pengkhianat takkan ditolerir dalam ketentaraan.”
Alec mengambil pistolnya, dan mengarahkannya ke kepala Jackal.
“Apa ada kalimat terakhir yang ingin diucapkan ?”
Dengan wajah memelas, Jackal berkata, “Tolong, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku tahu, apa yang telah kulakukan memang salah, tetapi...”
Kata-kata Jackal tidak akan pernah terselesaikan, karena sebuah peluru menembus kepalanya. Tubuhnya langsung roboh ke tanah.
“Apa kau juga memberikan Rex kesempatan ? Minta maaflah kepadanya di dunia lain !”
Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari belakang mereka, “Hey, apakah kalian semua selamat ?”
“Stieger ? Kaukah.. yang telah menolong kami ?”
Di antara kepulan debu, seseorang datang sambil membawa peluncur roket; Dia adalah Stieger.
“Gila ! Tiba-tiba tentara musuh menyerang aku dan Karl. Untung aku berhasil melarikan diri, tetapi aku tidak dapat menolong Karl. Sebenarnya, bagaimana mereka dapat mengetahui rencana kita ?”
Alec menunjuk ke mayat Jackal yang tergeletak di tanah.
“Pengkhianatan.”, katanya singkat memberi penjelasan.
“Begitu rupanya. Maaf, aku terlambat membantu kalian. Masalahnya, karena tidak mungkin aku sendirian dapat melawan mereka, jadi aku harus mencari senjata yang tepat.”
Alec tersenyum, “Tidak juga. Pertolonganmu cukup tepat waktu, walau sedikit terlambat untuk menolong Rex. Terima kasih, Stieger.”
Lalu Alec dan Phyton menengok ke arah Fox, yang masih berdiam diri.
“Aku tidak akan membenarkan diri atas apa yang telah kulakukan. Apapun hukuman dari kapten, akan kuterima.”
“Aku tahu, tidak mungkin kamu melakukan sesuatu tanpa alasan, Fox. Kamu bukanlah type seseorang yang dengan mudah membelot ke pihak musuh. Kemampuanmu adalah menyerang dari jarak dekat, jadi lebih mudah bagimu berada di dekat mereka. Aku mengerti apa yang telah kaulakukan, dan aku tidak akan menghukummu. Sekarang, lebih baik kita obati luka-lukamu.”
Fox hanya terdiam mendengar kata-kata Alec.

Misi mereka memang sukses, tetapi pengkhianatan yang dilakukan oleh Jackal, tak urung telah menimbulkan rasa saling curiga di antara anak buah Alec. Hari-hari selanjutnya dilewati mereka dengan penuh ketegangan. Puncaknya terjadi ketika Phyton, yang diperintahkan mengawasi pergerakan pasukan musuh, tak kunjung kembali.
“Pasti ia juga membelot !”, Karl berkata dengan nada tinggi.
“Apa maksudmu ?”
“Bukankah sudah jelas ? Jangan lupa, Phyton termasuk orang yang cukup dekat dengan Jackal ! Sekarang ia mendapat kesempatan, karena dalam misi kali ini ia seorang diri saja. Kita harus bersiap-siap, musuh pasti akan segera menyerang kita !”
Setelah berkata demikian, Karl mengambil senjatanya lalu pergi ke luar.
Alec memegang lengan Karl, “Karl, apa yang hendak kau lakukan ?”
“Jangan tahan aku, kapten. Aku akan menghabisi musuh yang akan menyerang kita !”
“Musuh apa ?”, Alec meninju wajah Karl, “Tenangkan dirimu, Phyton tidak akan berkhianat !”
Tepat ketika Alec berkata demikian, Phyton masuk ke dalam ruangan.
“A.. apa yang terjadi ?”
Melihat Phyton, kemarahan Karl memuncak.
“Dasar pengkhianat ! Untuk apa kau kembali ?!”, lalu ia mencengkram kerah baju Phyton, “Apa saja yang kau katakan kepada mereka ?!”
“Ka.. Karl, apa maksudmu ? ‘Mereka’ siapa ?”
Sebuah tinju bersarang di pipi Phyton, menyebabkannya terjatuh.
“Jangan berpura-pura, pengkhianat ! Sekarang jawab, apa saja yang telah kau katakan kepada pihak musuh ?!”
Tiba-tiba seember air membasahi seluruh tubuh Karl.
“Dinginkan kepalamu, Karl ! Kita bicarakan masalah ini baik-baik.”, lalu Alec menengok ke arah Phyton yang masih terduduk di lantai, “Phyton, mengapa kamu terlambat ?”
“Tadi, pergerakanku hampir diketahui oleh pihak musuh. Jadi, aku terpaksa mengambil jalan memutar untuk menghindari mereka. Itu sebabnya aku terlambat.”
“Bohong ! Pasti kau menemui pimpinan mereka dulu, maka kau terlambat !”
“Karl !”, Alec memandang Karl, “Pergi dan ganti bajumu dulu.”
Karl menatap Phyton dengan tajam, mendengus lalu pergi keluar ruangan. Alec menarik bangku, lalu mempersilahkan Phyton duduk.
“Phyton, kuharap kamu bisa memaklumi kecurigaan Karl terhadapmu. Bagaimanapun, ia adalah orang yang paling terluka akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh Jackal. Bukan saja ia mengalami siksaan yang cukup berat, tetapi kau tentu tahu, ia adalah teman dekat Rex. Dan juga, kau pernah dekat dengan Jackal.”, lalu Alec menghela nafas panjang, “Akhir-akhir ini, kulihat di antara kalian tidak saling bertegur sapa. Apakah yang terjadi ?”
“Entahlah.”, Phyton mengangkat bahunya, “Mungkin, akibat pengkhianatan itu, kami jadi saling curiga satu sama lainnya. Sebenarnya bukan hanya Karl saja, tetapi aku juga pernah berpikir demikian.”
Alec berkata sambil setengah merenung, “Apakah hal ini berarti, apa yang dikatakan oleh Jackal memang benar ? Bahwa aku telah gagal menjadi seorang pemimpin ?”
Mendengar kata-kata kaptennya, Phyton terkejut.
“Ti.. tidak, hal ini tidak ada hubungannya dengan Anda, kapten ! Kami hanya...”
“Hanya apa ?!”, Alec memotong kata-kata Phyton sambil menggebrak meja, “Kalau dalam suatu pasukan, seluruh anggota saling mencurigai, bukankah itu berarti pimpinannya telah gagal dalam memimpin anak buahnya ?!”
“Kapten...”
“Tolong keluar, Phyton. Aku.. perlu waktu menyendiri untuk memikirkan masalah ini.”
Phyton terdiam sejenak memperhatikan Alec, lalu akhirnya keluar meninggalkan Alec sendirian.
“... Aku harus melakukan sesuatu, agar situasi seperti ini tidak berkepanjangan ...”

Malam itu, Alec mengumpulkan semua anak buahnya.
“Apa kalian tahu, mengapa aku mengumpulkan kalian disini malam ini ? Ini bukanlah untuk briefing tugas baru, tetapi karena akhir-akhir ini telah terjadi ketegangan di antara kita. Sejak kasus pengkhianatan oleh Jackal, kalian jadi saling curiga satu dengan lainnya. Benar khan ?”
Semua hanya terdiam.
“Dari siang tadi, aku terus memikirkan masalah ini. Mungkin, semua kesalahan ini memang terletak pada diriku, yang kurang memperhatikan anak buahku.”
Secara spontan, anak buahnya menyanggah pernyataan Alec.
“Tidak ! Hal ini bukanlah kesalahan Anda, kapten.”
“Kalau kalian semua mempercayaiku, tidak mungkin bisa timbul kecurigaan di antara kalian sendiri. Sebenarnya aku juga selalu memikirkan, mengapa sampai Jackal berkhianat.”, Alec berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Karena itulah, aku mengumpulkan kalian semua disini. Jika ada keluhan, silahkan kalian sampaikan disini.”
Alec memandang wajah anak buahnya satu per satu. Ditatap seperti itu oleh kaptennya, mereka menunduk dan tidak berkata apapun.
“Bicaralah. Aku bukanlah peramal, yang bisa mengetahui permasalahan dan keluhan kalian.”
Akhirnya Karl memecahkan kesunyian.
“Kapten, sejujurnya aku tidak tahu, apa alasan sampai Jackal berkhianat. Dan aku yakin, kita semua juga tidak tahu. Aku mengaku salah, karena mencurigai Phyton secara sepihak. Tetapi kami semua mempercayai Anda, kapten, dan kami berjanji, tidak akan mengkhianati Anda.”
Fox, yang biasa hanya berdiam diri, juga berbicara, “Kapten, ketegangan yang terjadi memang bukan salah Anda. Rasa trauma akibat pengkhianatan Jackal, mengakibatkan kami selalu merasa ketakutan. Mungkin yang dibutuhkan, suasana yang bisa dapat memulihkan rasa saling percaya antara kami.”
“Kurasa kamu memang benar, Fox. Kalau begitu, aku akan...”
Belum sempat Alec menyelesaikan kalimatnya, ketika tiba-tiba Dolphin, petugas radio, memanggil Alec. Rupanya pusat hendak memberikan tugas baru. Alec segera memasang headphone, lalu mendengarkan instruksi dengan wajah serius. Akhirnya ia menjawab, “Baiklah, akan segera kami laksanakan !”
Ia menaruh headphone, lalu memandang anak buahnya.
“Tugas baru. Pos komando Targa, yang berada sekitar 3 jam dari sini, dikepung dan digempur habis-habisan. Kita harus segera menolong mereka. Tetapi, pusat juga memperingatkan, agar pergerakan kita jangan sampai diketahui pihak musuh. Jadi, untuk misi kali ini, aku hanya akan membawa satu orang pendamping.”

Seluruh anak buahnya terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada terkejut, “Hanya satu orang pendamping ?! Apa Anda yakin akan hal tersebut ?”
Alec mengangguk dengan yakin.
“Kapten, bukankah dalam tugas kali ini, kita akan berhadapan dengan musuh dalam jumlah yang sangat banyak ? Kalau hanya kapten dan seorang dari antara kami, itu namanya bunuh diri !”
Alec menghela nafas panjang, lalu berkata, “Maaf, mungkin penjelasanku mengenai misi ini kurang jelas. Kita tidak akan menghadapi musuh yang mengepung pos Targa. Tetapi kita akan menyusup melalui barikade musuh, dan membawa bantuan berupa makanan, obat-obatan dan amunisi bagi Targa. Itulah sebabnya, pergerakan kita tidak boleh diketahui musuh.”
“Mengapa kita tidak menyerang mereka dari belakang ?! Pastinya mereka akan...”
“Stieger”, Alec memotong kata-kata Stieger, “Apa kamu tahu kekuatan pertahanan pos Targa ? Lalu, apa kamu tahu kekuatan pasukan musuh yang menyerang Targa ?”
“A.. apa maksud kapten ?”
“Pos komando Targa adalah salah satu pos pertahanan terkuat kita di lini depan. Benteng mereka memiliki jumlah personel sekitar 750 orang, yang terdiri dari tentara inti 450 orang, tentara cadangan 200 orang, dan 100 orang untuk tugas perbantuan. Kekuatan tank sekitar 40 buah, helikopter tempur 8, kendaraan tempur dan truk pengangkut 75. Dengan kekuatan seperti itu, mereka masih tidak mampu menahan serangan dan kepungan musuh. Apa kalian pikir, dengan kekuatan kita yang tidak seberapa, bisa menghancurkan pihak musuh ?!”
Semua anak buah Alec terdiam mendengar penjelasan kapten mereka.
“Aku mengerti, tugas ini sangat berat. Itulah sebabnya, aku memberi kebebasan pada kalian, siapa yang bersedia mendampingiku dalam tugas ini.”, lalu Alec kembali memandang wajah anak buahnya. Setelah sunyi selama beberapa saat, akhirnya Fox mengangkat tangannya.
“Benar juga, Fox sangat ahli dalam operasi penyusupan. Ia bisa bergerak di antara pasukan musuh tanpa diketahui. Kalau Anda bersama dengan Fox, kami akan merasa tenang.”
Setelah mendapat persetujuan demikian, maka segera dimulailah persiapan untuk misi itu. Mereka memakai sebuah jeep untuk membawa semua bantuan itu. Setelah semua persiapan selesai, maka Alec dan Fox berangkat.
“Kapten dan Fox, berhati-hatilah ! Kalian harus pulang dengan selamat !”
Alec melambaikan tangannya, sementara Fox hanya berdiam diri.

Sepanjang perjalanan, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Masing-masing merasa tegang, menghadapi tugas ini. Tiba-tiba mereka bertemu dengan pasukan musuh. Dengan cepat, Alec membelokkan kendaraannya untuk menghindar. Tetapi ban jeep mereka malah terperosok ke dalam lumpur, dan tidak bisa bergerak. Tidak ada pilihan lain, mereka harus segera keluar dan menghadapi pasukan musuh. Ketika sedang keluar dari jeep, sebuah peluru menerjang lengan kanan Alec. Sambil menahan sakit, Alec melepaskan tembakan dengan tangan kirinya. Dua orang tentara musuh terjatuh, tetapi sebuah peluru kembali bersarang di kaki kirinya. Dengan terpincang-pincang, Alec berusaha berlari menghindari serangan musuh. Ia berlindung di balik sebuah batu besar, sambil sesekali melepaskan tembakan. Tiba-tiba seseorang muncul, dan secara reflek, Alec mengarahkan senjatanya.
“Kapten, ini aku !”
Mendengar suara Fox, Alec kembali terduduk dengan lega. Tetapi kemudian ia kembali terkejut, melihat luka-luka di tubuh Fox.
“Fox, lukamu parah sekali ! Cepat ambil obat di dalam jeep !”
“Aku baik-baik saja.”, lalu Fox duduk di samping Alec, “Pemimpin pasukan musuh sangat hebat. Aku hanya beruntung bisa membunuhnya.”
Untuk beberapa saat lamanya, keduanya hanya terdiam. Akhirnya Alec memecah kesunyian.
“Sekarang, kita harus menarik jeep itu keluar dari lumpur. Dengan keadaan kita seperti ini, hal itu sepertinya merupakan sesuatu yang mustahil dapat kita lakukan. Ada saran, Fox ?”
“Kapten, apakah posisi kita masih jauh dari pos komando Targa ?”
“Menurut perhitunganku, seharusnya tidak jauh lagi. Mungkin saja pasukan musuh tadi bagian dari pasukan yang mengepung Targa.”
“Kalau begitu, kita melanjutkan tugas ini dengan berjalan kaki. Menurutku, penyusupan lebih mudah dilakukan tanpa menggunakan kendaraan.”
Alec mengangguk, “Yah, kau benar. Lebih baik kita mencari posisi Targa dan juga posisi pasukan musuh.”, lalu Alec berjalan menuju jeep, diikuti oleh Fox.
“Fox, kamu berjaga-jaga saja di dalam jeep, biar aku yang melakukan pencarian.”
Baru saja Alec hendak pergi, ketika tiba-tiba Fox bertanya, “Kapten, sebenarnya aku selalu bertanya-tanya dalam hati : Mengapa aku sudah tidak bisa merasakan sakit akibat luka lagi ?”
Mendengar pertanyaan Fox, Alec terdiam sesaat. Lalu ia memandang wajah Fox, dan mengelus rambutnya.
“Sebaiknya kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, Fox.”
Setelah berkata demikian, Alec berjalan pergi.
“... Rupanya luka di batin Fox sudah sedemikian dalam. Kak, apa aku sanggup mengembalikan senyum Fox, seperti ketika kami masih bersama kakak ? ...”

Alec terkejut ketika melihat asap mengepul di kejauhan. Ia segera berlari menuju puncak bukit, dan di balik bukit itu, ia melihat keadaan benteng Targa sangatlah menyedihkan; Dinding benteng sudah runtuh sebagian, sementara menara-menaranya tinggal puing saja. Api berkobar di beberapa bagian benteng, sementara korban bergeletakkan di mana-mana. Pasukan musuh masih mengepung benteng, bahkan beberapa di antaranya sudah berada di sekitar benteng. Suara ledakan sesekali terdengar. Alec sadar, pasti tak lama lagi, benteng Targa akan jatuh ke tangan musuh. Ia langsung balik menuju ke jeepnya.
“Kapten, bagaimana keadaannya ?”, Fox bertanya dengan nada tidak sabar.
Alec hanya menggelengkan kepalanya, “Hancur total ! Jumlah pasukan musuh yang mengepung Targa memang sangat banyak. Aku tidak yakin, apakah bantuan ini akan berguna atau tidak.”
Sesaat terjadi keheningan di antara mereka. Tetapi akhirnya Alec berkata, “Kita tetap harus membawa bantuan ini, walau aku tidak yakin akan berguna. Setidaknya, kita sudah berusaha melakukan yang terbaik bagi Targa.”
Fox mengangguk. Lalu mereka memasukkan amunisi dan obat-obatan yang dibutuhkan benteng Targa ke dalam ransel. Setelah selesai, dengan penuh ketegangan mereka berjalan menuju benteng Targa.

Sebuah ledakan terdengar keras tak jauh dari posisi Fox. Pasukan musuh sudah semakin mendekat ke benteng Targa. Sambil menghindar dari ledakan, Fox teringat akan janjinya pada Alec sebelum mereka turun dari bukit.
“Fox, dari sini kita akan berpencar. Jikalau kita tetap bersama, maka jika kita tertahan oleh musuh, bantuan ini tidak akan pernah sampai.”
Fox mengangguk mengiyakan.
“Aku akan menerobos lewat sisi kanan benteng, sementara kamu dari sisi kiri. Pokoknya, salah satu dari kita harus berhasil ! Apa kamu mengerti maksudku, Fox ?”
“Aku tidak boleh gagal.”
Alec mengangguk.
Sebuah ledakan terdengar lagi, kali ini dari arah dalam benteng. Fox tersadar dari lamunannya, lalu kembali mengendap-endap berusaha menerobos menuju benteng. Tiba-tiba ia terlihat oleh pasukan musuh.
“Hey, ada tentara musuh di sana !”
Fox mengeluarkan pisaunya, lalu menghindar dari tembakan tentara musuh.
“... Gawat, sakit akibat luka pertempuran tadi baru terasa sekarang !
Ditambah ranselku yang berat ini ...”
Awalnya Fox ingin melepaskan ranselnya, tetapi teringat bahwa benteng Targa membutuhkan apa yang dibawanya ini, ia tidak jadi melakukannya. Akibatnya, beberapa peluru bersarang di tubuhnya. Untunglah jumlah tentara musuh yang memergokinya hanya 5 orang, sehingga walau kecepatannya agak berkurang, tetapi Fox berhasil menghabisi mereka. Setelah semua musuh tewas, Fox jatuh terduduk kelelahan.
“... Apa kapten sudah berhasil mencapai benteng ? Aku.. tidak boleh bersantai disini. Pasukan musuh sudah semakin mendekat ke benteng, dan kapten sangat berharap padaku ...”
Dengan tenaga yang tersisa, Fox kembali bangkit lalu berusaha lagi menuju benteng. Tetapi, nasib manusia sulit diduga. Sebuah ledakan melontarkan tubuh Fox menjauh dari benteng. Walau tidak terkena langsung, tetapi ledakan itu menambah luka di tubuhnya. Dan lagi, suara ledakan dari jarak dekat membuat telinganya berdenging. Ketika Fox berusaha berdiri, ia sadar bahwa lengan kirinya telah putus.sampai ke bahu.
“... Tuhan, aku tidak tahu apakah engkau ada atau tidak. Tetapi jika ada, kumohon, setidaknya bantulah aku agar sanggup bertahan, dan membawa bantuan ini ke dalam benteng. Aku tidak memperdulikan nyawaku, asal aku berhasil dalam tugasku ini ...”
Dengan tertatih-tatih, Fox melanjutkan penyusupannya.

Sementara itu, di sisi kanan benteng, Alec mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dari Fox. Ia juga sempat bertempur dengan musuh yang memergokinya, walau ia tidak terkena ledakan.
“... Fox, kuharap kamu bisa mencapai benteng dengan selamat. Aku sadar, aku tidaklah sehebat Kak Fritz, tetapi keinginanku untuk melindungimu tidak kalah dengan kakak ! ...”
Sambil bergerak perlahan, Alec kembali teringat masa lalunya.
Pada suatu malam yang dingin, sekelompok tentara baru balik dari patroli. Salah seorang di antara mereka, seorang pemuda bertubuh tinggi tegap dengan kulit kecoklatan, memegang tangan seorang anak perempuan yang sangat kotor, seperti baru diambil dari selokan. Pemuda itu adalah Kapten Fritz, kakak dari Alec, yang saat itu berusia 17 tahun. Seorang anak laki-laki berusia 13 tahunan berlari keluar dari sebuah rumah, untuk menyambut kedatangan mereka; Ia adalah Alec.
“Selamat datang. Bagaimana patrolinya, kak ?”
“Phew, tadi hampir saja kami berhadapan dengan pasukan musuh. Untung saja kami dapat menghindari mereka.”
Pandangan mata Alec beralih ke tangan Fritz.
“Lalu kak, siapa anak ini ? Dia.. kotor sekali !”, terdengar nada jijik dalam suara Alec.
“Oh, aku menemukannya sedang berada di dekat mayat seorang tentara musuh. Ketika kutanya, ia hanya menjawab, ‘Akulah yang membunuhnya’. Entah benar atau tidak, tetapi aku bisa melihat, matanya penuh dengan dendam dan kebencian. Itulah sebabnya, aku membawanya pulang.”
Alec hanya meringis, “Tetapi kak, menurutku sebaiknya ia mandi dulu. Tubuhnya bau sekali !”
Fritz tersenyum, lalu membawa gadis kecil itu masuk ke dalam rumahnya. Sejak hari itu, gadis itu tinggal di rumah mereka.
Seminggu berlalu sejak Fritz membawanya, gadis kecil itu masih belum mau berbicara, termasuk untuk menyebutkan namanya. Alec-lah yang pertama kali memanggilnya dengan nama ‘Fox’.
“Hey Fox, apa ingin menemaniku latihan ?”
“Fox ? Alec, mengapa kamu memanggilnya demikian ?”, tanya Fritz.
“Yah, karena pandangan tajam matanya itu mirip sekali dengan mata rubah. Dan karena ia tidak pernah menyebutkan namanya, jadi kurasa lebih baik kita saja yang memberinya nama. Khan tidak enak, memanggilnya dengan ‘gadis kecil’ terus ?”
Mendengar penjelasan adiknya, Fritz tertawa.
“Kamu ini, seenaknya saja memberi panggilan pada seseorang. Tetapi, kurasa ideamu itu bagus.”, lalu Fritz mengelus kepala gadis kecil itu, “Baiklah, mulai saat ini, namamu adalah Fox !”
Sampai cukup lama tinggal bersama dengan Fritz dan Alec, Fox masih tetap seorang anak perempuan yang sangat tertutup. Walau begitu, baik Fritz maupun Alec tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Hingga akhirnya pada suatu hari, ada sebuah kejadian yang menyebabkan Fox berubah.
Beberapa hari sebelum hari itu, Yukon tiba-tiba saja menjadi lebih agresif dengan menyerang pos-pos perbatasan Podinc. Penduduk desa daerah Podinc yang berbatasan dengan Yukon menjadi panik. Demikian pula Fritz dan Alec, karena tempat tinggal mereka berada di antara desa-desa perbatasan tersebut. Fritz semakin sering bertugas patroli, sementara Alec dan Fox menunggu dengan tegang di rumah. Pada hari itu, Alec seperti biasa, sedang mengembalakan dombanya, sementara Fox diam di rumah. Tiba-tiba Alec melihat Fritz sedang mendatanginya, dalam keadaan terluka.
“Kak Fritz, apa yang terjadi ?”
“Pasukan patroliku tiba-tiba saja dikepung oleh pasukan Yukon ! Walau awalnya kami bermaksud memberikan perlawanan, tetapi kekuatan kami kalah. Anak buahku memintaku untuk memperingatkan desa kita, akan serangan musuh.”
Tanpa berpikir panjang lagi, Alec meninggalkan domba-dombanya untuk segera membantu kakaknya bertemu kepala desa.
“Kalian sudah mendengar apa yang dikatakan Fritz khan ? Semua yang sudah bisa melindungi diri, segera persiapkan diri kalian, lindungi desa ini dari serangan musuh ! Wanita dan anak-anak mengungsi ke tempat perlindungan.”, demikian kepala desa memberi komando kepada penduduknya.
Semua laki-laki, tua maupun muda, mempersenjatai diri mereka dengan alat seadanya. Fritz diserahi tugas untuk mengatur strategi. Sementara wanita dan anak-anak pergi, Fox bersikeras bertahan di desa.
“Fox, jangan keras kepala begitu ! Nanti aku dan kakak kerepotan melindungimu !”
Fox memandang Alec dengan tatapan tajam, “Tidak perlu, aku bisa melindungi diri sendiri. Jangan lupa, aku pernah membunuh seorang tentara musuh.”
Dengan kesal, Alec berkata, “Ya sudahlah ! Ingat, aku tidak bertanggung jawab apabila kamu terluka nantinya.”
Fritz tersenyum, lalu memberikan sebilah pisau tentara miliknya kepada Fox.
“Sudah kuduga, kamu memang gadis kecil pemberani, Fox. Pakailah ini untuk melindungi dirimu.”
Fox menerima pisau itu dan mengangguk. Lalu dengan tegang, seluruh penduduk desa menunggu kedatangan pasukan musuh. Dua ledakan di pinggir desa mengejutkan mereka.
“A.. apa yang terjadi ?”
“Apa mungkin.. pasukan musuh sudah berada di sini ?”
Penduduk-pun menjadi panik. Usaha Fritz menenangkan mereka sia-sia. Mereka berlarian ke berbagai arah dalam ketakutan. Dan, ketika terjadi kekacauan itu, tiba-tiba muncullah pasukan musuh yang langsung menyerang. Mereka bisa masuk ke dalam desa dengan mudah, tanpa ada perlawanan dari penduduk yang sedang kebingungan. Sementara Fritz, Alec, dan beberapa orang yang tidak terpengaruh oleh ledakan, berusaha menyerang balik. Di situlah kemampuan Fox menyerang musuh dalam jarak dekat terlihat.
“Hebat sekali ! Ia bisa bergerak dengan lincah di antara pasukan musuh, dan membantai mereka satu per satu.”, Alec memujinya.
Bahkan Fritz ikut terpana melihat Fox. Tetapi dalam hati kecilnya ia sadar, bahwa tidak seharusnya seorang anak perempuan membunuh musuh dengan sadis seperti itu.
“Alec, kita tidak boleh membiarkan Fox sendirian. Kita juga harus membantunya !”
Alec mengangguk, lalu keduanya maju menyerang.
“Fox, mundurlah ! Biar kami yang melanjutkannya.”
Fox tidak menjawab. Ketika memandangnya, Fritz terkejut; Sorot mata Fox begitu dingin, penuh akan kebencian dan kemarahan, tetapi juga kesedihan yang sangat mendalam.
“... Apa yang menimpa gadis kecil ini sebenarnya ? ...”
Seorang tentara musuh kembali jatuh bersimbah darah, sementara tangan Fox diliputi oleh darah musuhnya. Tiba-tiba saja sebuah tembakan terdengar, dan dengan reflek, Fritz mendorong Fox.
“Fox, bahaya !”
Fox terjerembab, dan ketika ia menengok, tampak Fritz sedang berlutut sambil memegang bahunya yang terluka. Sementara di belakangnya, tentara yang tadi melepaskan tembakan, sudah kembali membidik Fritz. Seketika itu pula Fox teringat akan ibunya, lalu sambil menjerit, “Mama !”, Fox melemparkan pisau yang dipegangnya, tepat ke kepala tentara musuh itu. Orang itu terjatuh tanpa sempat melepaskan tembakan. Setelah berhasil menolong Fritz, Fox hanya terdiam di tempatnya. Pandangan matanya kosong.
“Ko.. komandan !”, salah seorang tentara musuh terkejut melihat kejadian itu, “Gawat, komandan telah gugur !”
Kata-kata itu bagaikan petir di siang bolong bagi pasukan musuh, di sisi lain menjadi cambuk semangat bagi penduduk desa. Akhirnya pasukan musuh mundur dengan jumlah korban yang tidak sedikit.
“Hore, kita berhasil memukul mundur pasukan musuh !”
Sementara penduduk desa lainnya merayakan kemenangan itu, Fritz mendekat ke arah Fox yang tetap berdiam diri di tempatnya, lalu memeluknya.
“Fox, semua sudah berakhir sekarang. Terima kasih, kamu telah menolongku.”
Fox, yang dipeluk oleh Fritz, perlahan-lahan mulai sadar, lalu menangis dengan kerasnya. Itulah untuk pertama kalinya, Fox memperlihatkan perasaannya.

Sejak hari itu, Fox mulai terlihat normal seperti anak perempuan seusianya. Ia menjadi gadis yang lincah dan penuh semangat. Walau demikian, ia masih jarang tersenyum dan tetap menyimpan dendam terhadap negara Yukon. Dan suatu hari, ia mengungkapkan keinginannya untuk bergabung di kesatuan Fritz. Pada saat itu, Alec sudah bergabung.
“Apakah kamu yakin ingin bergabung, Fox ? Menurutku, lebih baik kamu memikirkannya dahulu.”
“Aku sudah memikirkannya baik-baik.”
Fritz menghela nafas, “Tidak semudah itu menjadi seorang tentara. Bahkan, Alec-pun harus menjalani suatu tes sebelum ia bisa diterima. Selain itu juga, kamu harus mengerti, bahwa menjadi seorang tentara tidak sama dengan menjadi seorang pembunuh !”
“Maksud Kak Fritz ?”
“Tugas tentara sangat beragam. Mengalahkan dan membunuh musuh hanyalah salah satu di antaranya. Yang terpenting adalah, kita harus membela negara dan melindungi warga sipil.”, lalu Fritz memandang tajam ke arah Fox, “Aku tahu alasanmu ingin menjadi seorang tentara, yaitu berlandaskan rasa dendam. Aku tidak akan pernah menerimamu, jika memang hanya itu alasanmu !”
Mendengar kata-kata tegas Fritz, Fox terdiam. Setelah hening beberapa saat, Fox kembali bertanya, “Kalau demikian, apa alasan Kak Fritz menjadi seorang tentara ?”
“Aku.. ingin menghentikan kekejian dan pembantaian ini. Kamu tentunya tahu, tentara Yukon tidak pernah membedakan antara penduduk sipil dan tentara. Mereka telah dilatih dengan cara yang sangat keras dan kejam, sehingga perasaan dan hati nurani mereka mati. Mereka telah diciptakan menjadi mesin pembunuh, dan aku ingin menghentikan kekejaman yang mereka lakukan.”, sekilas pandangan mata Fritz menerawang, “Itulah sebabnya, aku tidak ingin dikuasai dendam. Sebab jika demikian, aku tak ada bedanya dengan mereka.”
Kembali terjadi keheningan di antara mereka, akhirnya Fox berkata, “Baiklah, aku paham. Kak Fritz, tolong beri aku waktu beberapa hari untuk memikirkan hal ini.”
Fritz mengangguk mengiyakan.
Dalam waktu dua hari, Fox terus menyendiri dan merenung. Akhirnya ia datang lagi kepada Fritz.
“Bagaimana ? Apakah kamu sudah memutuskannya ?”
Fox mengangguk dengan pasti.
“Memang benar kata Kak Fritz, alasanku hanyalah karena ingin membalas dendam. Aku tidak jadi mengajukan diri, karena aku juga tidak ingin menjadi seorang pembunuh. Jika aku sudah menemukan alasan tepat, barulah aku akan kembali kepada kakak.”
Fritz tersenyum, “Aku senang dengan keputusanmu ini, Fox.”
Tetapi, nasib manusia selalu tidak dapat diduga

“Cepat, lindungi wanita dan anak-anak !”, Fritz memberi komando pada anak buahnya.
Sebuah ledakan keras membuat tanah bergetar. Perlahan-lahan Fox mengintip dari tempat persembunyiannya.
Kebahagiaan yang hanya sedikit itu hampir terenggut
Suara senapan terdengar dimana-mana; Para wanita yang bersembunyi bersama Fox, menjerit ketakutan. Fox melihat tentara anak buah Fritz berusaha mati-matian bertahan dari serangan musuh.
“... Mengapa Kak Fritz tidak mengijinkan aku ikut berperang ?! ...”
Serangan ini berawal dari sebuah ledakan keras di tengah malam, yang membuat terkejut penduduk desa yang sedang tertidur. Serangan dadakan pasukan Yukon kali ini, sepertinya bermotifkan balas dendam. Mereka mengerahkan kekuatan yang sangat dahsyat; Tentara yang berjumlah sangat banyak, dengan didukung kendaraan lapis baja, meriam artilleri, bahkan juga sebuah tank tempur utama.
Dendam hanya akan membawa akibat yang sangat menyedihkan
Di pinggir desa, penduduk yang sedang berlari menyelamatkan diri, dibantai seperti hewan buruan. Dan tentara musuh menjadikan hal itu sebagai permainan. Melihat itu, darah Alec mendidih; Kemarahannya memuncak.
“... Keterlaluan sekali, mereka tidak memandang para penduduk sebagai manusia ! ...”
Ia segera melepaskan tembakannya ke pihak musuh. Mendapat serangan tidak terduga itu, tentara musuh tidak sempat menyelamatkan diri. Banyak di antara mereka tewas akibat serangan dari Alec. Baru saja Alec berhenti sejenak setelah melampiaskan kemarahannya, ketika sebuah peluru bersarang pinggangnya. Alec menjerit sambil memegang pinggang-nya yang terluka.
“Anjing-anjing Podinc ini masih bisa menyalak juga rupanya.”, seorang tentara Yukon mendekat sambil mengarahkan pistolnya ke kepala Alec, “Tetapi, akan kubungkam anjing ini untuk selamanya !”
Alec mengeluarkan pisaunya, dan langsung menusukkannya ke kaki tentara itu. Pistol meletus, tetapi Alec berhasil menghindarinya.
“Kami manusia, bukan anjing ! Jika kalian meremehkan kami, kupastikan kalian akan menyesal !”
Sebuah tusukan tepat di jantung, menyelesaikan pertarungan itu.

Sementara itu, pasukan pimpinan Fritz semakin terdesak. Walau sudah berusaha maksimal menahan pasukan musuh, akhirnya tentara musuh dengan didukung kendaraan lapis baja, berhasil memasuki desa. Penduduk desa yang laki-laki, dengan senjata seadanya, berusaha memberikan perlawanan. Salah seorang tentara musuh, secara tidak sengaja menemukan tempat persembunyian, dimana Fox, para wanita dan anak-anak, sedang bersembunyi. Dengan cepat Fox mencabut pisaunya, lalu menyerang tentara itu. Tetapi jeritannya terdengar oleh pasukan lainnya, yang langsung mendatangi tempat persembunyian itu. Fox memang mampu melindungi dirinya sendiri, tetapi ia tidak mungkin dapat melindungi semua orang yang berada bersamanya. Fox terkejut, ketika melihat tentara musuh begitu sadis; Melepaskan tembakan secara membabi buta. Jeritan menggema di penjuru ruangan persembunyian itu, darah berceceran dimana-mana, dan tubuh-tubuh sekarat merenggang nyawa. Akibat terkejut, Fox berhenti sesaat. Dan, sebuah pukulan keras menghantam pelipisnya, mengakibatkan Fox merasa pusing berat.
“Hey, apa yang harus kita lakukan pada cewek ganas ini ?”
Salah seorang di antara mereka, menarik rambut Fox dan memperhatikan wajahnya.
“Komandan menyuruh kita untuk menghancurkan desa ini, tetapi ia tidak melarang kita untuk bersenang-senang, bukan ? Walau masih kecil, tetapi anak ini lumayan cantik.”, lalu orang itu menarik baju Fox hingga robek.
“Kalau kalian.. tidak membunuhku, kalian.. pasti menyesal !”
“Heh, apa katamu ?”, orang itu meninju perut Fox dengan keras, “Wah maaf, aku tidak bisa mendengarmu, hahaha...”
Fox hanya dapat menahan amarah, diejek dan diolok-olok seperti itu. Ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meloloskan diri. Tepat ketika tentara itu hendak meraba dada Fox, sebuah peluru bersarang di kepalanya. Mereka menengok; Rupanya Fritz dan beberapa pasukannya yang tersisa telah datang. Fox mengambil pisaunya yang terjatuh, dan langsung menyerang tentara yang masih terkejut akibat tembakan itu.
“Fox, apa kamu baik-baik saja ?”
“I.. iya. Terima kasih atas pertolongannya, Kak Fritz.”, Fox memegang kepalanya yang masih terasa pening. Lalu mereka keluar bersama. Ketika sampai di pintu, tiba-tiba Fritz mendorong Fox menjauh. Sebuah ledakan terjadi tepat di tempat Fritz berada. Fox tertegun, melihat serpihan daging dan darah berceceran. Untuk beberapa saat lamanya, ia masih tidak percaya akan apa yang dilihatnya.
“Kak Fritz... kakak ada di mana ? Kak Fritz ? Jawablah aku, Kak !”
Beberapa orang anak buah Fritz berusaha menyadarkan Fox.
“I.. ini... bohong khan ? Kak Fritz.. tidak mungkin mati khan ?”, pandangan mata Fox begitu hampa. Ia mengambil segenggam tanah yang terkena darah Fritz, lalu memandang ke langit sambil menjerit, “TIDA..AK !”

Sebuah ledakan terdengar dari dalam benteng Targa, yang disusul oleh asap membumbung tinggi. Alec sudah berada tak jauh dari gerbang timur benteng.
“... Sejak hari itu, keceriaan Fox tak pernah terlihat lagi. Tetapi setidaknya, aku harus mampu memperlihatkan apa itu kedamaian kepadanya; Itulah tekadku ! ...”
Seakan mendapat semangat baru, Alec mempercepat geraknya menuju benteng.

Ketika sampai di gerbang barat benteng Targa, tiba-tiba beberapa orang tentara mengepung Fox.
“Hey, siapa kamu ?”
“Aku.. Fox. Aku datang.. membawa bantuan amunisi.. dan obat-obatan.”, suara Fox terputus-putus akibat menahan rasa sakit.
Mendengar kata-kata Fox, wajah para tentara menjadi cerah.
“Syukurlah. Amunisi kami sudah sangat menipis, sementara pasukan musuh tidak berkurang sedikit-pun. Di mana bantuan itu ?”
Fox menunjuk ranselnya. Mereka tertegun.
“Eh? Ha.. hanya segitu ?”, lalu wajah mereka mulai menunjukkan kemarahan, “Apa gunanya kalau hanya segitu ?! Apa matamu sudah buta, tidak melihat jumlah pasukan musuh yang mengepung kami ?! Cih, padahal kupikir kita akan tertolong !”
“Apa kalian tidak bisa menghargai usahaku ?!”, nada suara Fox meninggi, “Lihat, hanya demi ransel ini, aku terluka parah seperti ini ! Bahkan, aku kehilangan satu lenganku !”
Setelah berkata demikian, Fox yang seluruh tenaganya sudah terkuras, jatuh pingsan.
“He.. hey !”, mereka saling berpandangan, “Mungkin kita keterlaluan. Setidaknya, gadis ini telah mempertaruhkan nyawanya demi membawa bantuan ini.”
Lalu salah seorang di antara mereka mengangkat tubuh Fox, “Dia harus segera dirawat. Lukanya memang parah sekali.”
Sementara di gerbang barat, Alec juga berhasil menyelesaikan tugasnya. Ia segera menanyakan keberadaan Fox.
“Oh, sepertinya memang ada seorang gadis yang membawa bantuan seperti Anda, kapten Alec. Dia sekarang sedang dirawat oleh unit kesehatan, di bagian belakang benteng.”
Setelah mengucapkan terima kasih, Alec segera mendatangi unit kesehatan itu. Ketika sampai di sana, Alec terkejut. Akibat gedung rumah sakit sudah tidak mampu menampung orang yang terluka, banyak di antara mereka yang dibaringkan begitu saja di tanah. Banyak tentara yang akhirnya meninggal akibat tidak mendapatkan perawatan. Alec memalingkan wajahnya akibat tidak tahan melihat pemandangan menyedihkan itu.
“Hey kamu, tolong bantu aku !”
Alec menengok; Seorang gadis memakai baju perawat sedang melihat ke arahnya. Alec menunjuk dirinya sendiri dengan pandangan bertanya.
Perawat itu berkata dengan nada tidak sabar, “Iya, kamu ! Cepat, bantulah aku !”
“Apa yang bisa kubantu ?”
“Tekan lengannya seperti ini, sementara aku akan menyuntiknya.”, perawat itu memberi contoh.
Alec melakukan seperti yang diminta. Sambil menekan lengan tentara yang terluka itu, ia melihat sekelilingnya; Begitu banyak yang terluka, sementara jumlah perawat sangatlah sedikit. Mereka semua berpacu melawan waktu, demi menyelamatkan hidup banyak orang.
“... Inilah kenyataan di medan perang. Di satu sisi, hidup seseorang bagai tanpa arti, sementara di sisi lain, tidak sedikit orang yang berusaha menyelamatkan nyawa orang lain ...”
Karena kesibukan yang luar biasa, akhirnya Alec tidak sempat mencari Fox.

Sebuah ledakan membangunkan Fox. Fox memperhatikan sekelilingnya; Ia berada di sebuah lapangan, dimana banyak tentara yang terluka juga ditempatkan di sana. Di sudut lapangan, tampaklah sebuah lubang besar menganga, sepertinya akibat ledakan tadi. Orang-orang di sekitarnya panik, baik perawat maupun tentara.
“Gawat, pasukan musuh makin mendekat ! Apa yang harus kita lakukan ?”
“Kita semua pasti mati ! Mereka takkan memperdulikan orang yang terluka, semua akan dibantai habis !”
Sebuah ledakan terjadi lagi; Kali ini, tepat mengenai gedung rumah sakit.
“... Apakah aku akan mati di benteng Targa ?
Kalau memang demikian, aku akan mati sebagai seorang pejuang ! ...”
Lalu Fox menengok ke arah langit.
“... Kak Fritz, sekarang aku sudah sangat paham, perbedaan antara tentara dan pembunuh.
Saat ini, aku akan berjuang sebagai tentara bersama dengan yang lain, walau kami saling tidak mengenal. Akan kuperlihatkan perjuanganku kepada kakak ...”
Fox berlari menuju ke arah sebuah menara jaga kecil, yang telah kosong. Ketika pasukan musuh terlihat olehnya, ia segera menembakkan senapan mesin besar yang ada di atas menara. Tanpa lengan kirinya, hal itu membutuhkan perjuangan. Sebuah ledakan dahsyat dekat kaki menara, menyebabkan Fox terjatuh dari menara. Saat itulah, Alec melihatnya.
“Fox ! Bukankah katanya kamu sedang terluka ?”
Sambil berusaha bangkit, Fox berkata, “Ah, rupanya kapten selamat. Syukurlah.”
Ketika hendak membantu Fox berdiri, Alec melihat lengan kiri Fox.
“Fo.. Fox ! Le.. lengan kirimu...”
“Terkena ledakan ketika di perjalanan tadi. Aku memang pingsan sesampaiku di sini, dan baru saja sadar. Aku sudah cukup mendapat perawatan, dan masih sanggup untuk berjuang.”
Alec menghela nafas panjang sambil tersenyum, “Belum pernah kutemui gadis keras kepala sepertimu, Fox. Dari pertama kali kita bertemu, kamu tidak pernah mau disuruh bersembunyi. Tetapi kali ini, luka-lukamu sudah sangat parah, Fox.”
Sambil melemparkan pandangannya ke sekeliling, Fox berkata, “Apakah kapten melihat tempat untuk bersembunyi ? Benteng ini sudah dikepung oleh musuh, bahkan untuk melarikan diri juga tidak mungkin.”, lalu Fox memandang tajam ke arah Alec, “Aku tidak ingin mati sia-sia, kapten ! Aku seorang prajurit, dan kalau memang harus mati, aku ingin mati sebagai prajurit !”
Sebuah ledakan terjadi lagi, dan suara senapan semakin mendekat. Alec memandang wajah Fox, dan akhirnya mengangguk.
“Kamu benar. Mari kita berjuang bersama, Fox !”
Alec mengambil pisau Fox yang terjatuh dan mengembalikannya kepada Fox, lalu ia mengambil senjata untuk dirinya sendiri. Dengan hanya bermodalkan semangat, keduanya maju bersama.

Beberapa hari kemudian...
Stieger berdiri tak jauh dari pintu gerbang utama benteng Targa. Sebagian besar dinding benteng tersebut telah menjadi puing, hanya di beberapa bagian yang masih berdiri. Tidak ada satupun menara yang selamat akibat serangan itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah suara, “Hey, siapa kamu ? Mengapa gerak-gerikmu mencurigakan begitu ?”
“Maaf, apakah saya boleh bertanya pada Anda ?”
Tentara yang tadi menegurnya, memperhatikannya.
“Kamu.. juga tentara dari Podinc ? Tentu saja, apa yang ingin ditanyakan ?”
“Ketika benteng ini dikepung pasukan Yukon, bukankah ada yang membawa bantuan ? Apakah mereka baik-baik saja ?”
“Oh, maksudmu seorang laki-laki dan perempuan itu ?”, lalu wajah tentara itu berubah menjadi muram, “Yah, mereka memang berhasil sampai ke tempat ini membawa bantuan. Bahkan lebih dari itu, mereka juga membantu perjuangan kami. Seperti yang kamu lihat, kami berhasil memukul mundur pasukan Yukon, dan semua ini berkat mereka.”
“Begitukah ? Lalu, dimana mereka sekarang berada ?”
Tentara itu terdiam sejenak, lalu berkata, “Ikutlah denganku.”
Stieger mengikuti tentara itu, hingga di sebuah lapangan terbuka; Di tempat itu, terdapat banyak sekali makam yang hanya dihias dengan nisan kayu sederhana, tanpa tertulis apapun. Dengan perasaan tidak menentu, Stieger terus mengikuti orang tersebut, hingga di depan dua buah makam dengan sebuah nisan yang terbuat dari batu. Pada nisan itu tertulis : Demi menghormati keberanian Kapten Alec dan Fox. Sementara di atas makam, tertancap sebuah pisau yang sangat dikenal oleh Stieger; Pisau khusus milik Fox !
“Walau dalam keadaan luka parah, dengan berani mereka melawan pasukan musuh. Ketika itu kami sudah hampir kalah, tetapi melihat keberanian mereka, semangat kami menjadi pulih. Dan akhirnya, kami berhasil memukul mundur pasukan musuh. Tetapi, mereka berdua...”, tentara itu berhenti sejenak, “Padahal, kami bukanlah orang yang mereka kenal.”
Stieger mencabut pisau milik Fox, lalu berkata, “Bagi Kapten, tidak ada istilah ‘orang asing’ di antara orang yang sama-sama berjuang demi Podinc. Dan itulah sebabnya, kami sebagai anak buahnya, sangat menghormati beliau.”
Untuk sesaat, hanya keheningan yang ada. Akhirnya Stieger berkata, “Baiklah. Terima kasih telah mengantarku, dan juga telah memberi mereka pemakaman khusus seperti ini.”
“Seharusnya kami yang berterima kasih kepada mereka, hanya saja kami sudah tidak bisa menyampaikannya lagi.”
Baru saja Stieger berjalan beberapa langkah, ketika ia berhenti sejenak sambil menatap langit.
“... Kapten, Fox, semoga kalian dapat menemukan kedamaian yang sesungguhnya.
Kami tidak akan pernah melupakan kalian ...”

Perang antara Podinc dan Yukon masih terus berlanjut, tetapi bagi Alec dan Fox, perjuangan mereka sudah berakhir. Walau sejarah berulang kali membuktikan, bahwa peperangan hanya membawa kehancuran dan kesedihan, tetapi manusia tidak pernah menyadari kesalahannya. Demi kepentingan segelintir penguasa, mereka tak segan-segan untuk menyatakan perang, dan mengorbankan begitu banyak orang kecil yang tidak berdosa. Pertanyaan yang tersisa : Kapankah dunia ini dapat kembali menjadi dunia yang damai ? Jawaban dari pertanyaan itu, ada pada diri kita sendiri; Apakah kita akan membiarkan diri dikuasai oleh ambisi akan kekuasaan, dendam dan amarah ?

_________________
Image
Better weeping because differencies than locked behind a smilling mask. I am an artisan, I colors myself using the colors of my heart.
Image


 
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 1 post ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 2 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
cron
Powered by phpBB © 2002, 2006 phpBB Group
[ Time : 0.017s | 14 Queries | GZIP : Off ]