T2GM.NET

Welcome to Tree Tag Grand Master Forum (discussion board for 3tag strategy guide, replay, download, tip & trick)
It is currently Wed Oct 21, 2020 8:52 am

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 7 posts ] 
Author Message
 Post subject: (cerpen horor)hide and seek
PostPosted: Sat Apr 07, 2007 8:50 pm 
Offline
Site Keeper

Joined: Sun Apr 01, 2007 9:04 pm
Posts: 571
Location: Cage of the Past on Jakarta
Ini cerita pendek buatan tetangga gw excelsio.. gw rasa worthy dibaca. Tentang... petak umpet yg membawa maut... ... ...

Ada sebuah larangan
Dilarang bermain petak umpet setelah maghrib.
Jika larangan itu dilanggar
maka akan terjadi hal yang sangat mengerikan.


Pada suatu siang yang cerah, seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun berlari menuju rumahnya yang terletak di pinggir sebuah desa kecil. Ia baru saja pulang dari sekolah.
“Emak, Nurul laper nih. Ada makanan apa ?”
Ibunya tersenyum sambil menjawab, “Ada tempe sama ikan teri. Tapi jangan lupa cuci tangan dulu ya ?”
Gadis kecil bernama Nurul itu mengangguk, lalu pergi ke belakang rumahnya. Ketika sedang mencuci tangannya, tiba-tiba seorang anak laki-laki sebaya dengannya datang.
“Hey Nurul, sore ini kita maen yuk ?”
“Maen ? Maen apa, Soleh ?”
“Maen petak umpet. Aku udah ngumpulin anak-anak, tinggal kamu aja.”
Mendengar itu, Nurul terkejut.
“Eeh, ta.. tapi kan, nggak boleh maen petak umpet abis maghrib ? Kata emak, bisa bahaya.”
Sambil tersenyum mengejek, Soleh berkata, “Alaaa, itu kan cuma alasan supaya kita nggak pergi maen. Udah deh, kamu mau ikut ato nggak ?”
Nurul terdiam. Akhirnya Soleh berkata lagi, “Kalo kamu nggak mau, kita nggak temenan lagi !”
“E.. eh, i.. iya deh, Nurul ikut. Tapi Nurul tetap temenan sama Soleh ya ?”
Soleh tersenyum.
“Begitu dong. Nanti setelah sholat maghrib, kita ketemu di belakang masjid. Jangan lupa ya ?”
Nurul mengangguk, lalu Soleh pergi.

Petang harinya, gema ‘Allahu Akbar...’ menggema di seluruh penjuru desa. Nurul dan ibunya, sama seperti yang lainnya, segera bersiap pergi ke masjid. Tetapi di dalam hatinya, sebenarnya Nurul merasa takut.
“Ya Allah, apa yang harus Nurul lakukan ? Nurul takut, tapi kalau tidak mau, nanti Soleh nggak mau temenan sama Nurul lagi.”
Akhirnya setelah menjalani sholat maghrib, Nurul pergi juga ke belakang masjid. Disana telah menunggu Soleh dan teman-temannya, bahkan ada beberapa anak yang sepertinya berasal dari desa sebelah.
“Akhirnya dateng juga kamu, Nurul. Kita udah nungguin kamu dari tadi lho.”
“So.. Soleh !”, Nurul tampak terkejut, “Kamu.. nggak ngikutin khotbah ustad ?”
“Lagi males.”, jawab Soleh dengan setengah acuh, “Udahlah, nggak usah jadi anak sok alim. Paling khotbahnya sama aja kayak kemarin-kemarin ini khan ?”
“Soleh, nggak baik bilang kayak gitu lho !”
“Iya deh, laen kali aku pasti ikutin kok. Sekarang kita main yuk !”
Lalu bersama-sama mereka pergi ke pinggiran desa, agar tidak ada orang dewasa yang melihat. Setelah melakukan hom-pim-pa, ternyata yang mendapat giliran jaga pertama adalah Nurul.
“Nurul, kamu itung sampai 50 ya ? Dan jangan ngintip !”, demikian pesan Soleh.
Nurul mengangguk, kemudian menghadap pohon dan mulai menghitung.
“Satu ... dua ... tiga ............. tiga puluh lima ... tiga puluh...”, tiba-tiba saja suatu perasaan aneh menghinggapi Nurul; Perasaan cemas yang luar biasa.
Dengan perlahan, ia membuka matanya lalu menengok ke belakang. Suasana sekelilingnya sangat gelap, bahkan di langit tidak terlihat bintang satu-pun.
“So.. Soleh, teman-teman !”
Nurul berjalan dengan penuh rasa takut, berusaha mencari Soleh dan teman-temannya di dalam kegelapan.

Setengah jam kemudian.
Nurul dengan terburu-buru masuk ke dalam rumahnya. Ketika melihat Nurul masuk, ibunya langsung memarahinya.
“Nurul, kamu pergi kemana aja ? Kenapa kamu menghilang begitu saja selesai shalat ?”
“E.. emak, ga.. gawat ! Soleh, dia.. dia...”, Nurul terbata-bata.
“Tenang dulu, Nurul.”, lalu ibunya menyodorkan segelas air padanya, “Nih, minum dulu.”
Nurul langsung meneguk habis air dalam gelas tersebut. Setelah menenangkan diri, akhirnya Nurul berkata, “Emak, Soleh dan teman-temannya menghilang !”
“A.. APA ?! Apa maksudmu ?”
“Maaf emak, tapi tadi selesai shalat, Nurul pergi ke belakang masjid untuk menemui Soleh. Kami mau main petak umpet.”
“Main petak umpet ?!”, wajah ibu Nurul langsung berubah karena marah, “Nurul, bukannya emak selalu peringatin kamu, jangan main petak umpet selewat maghrib ?! Kamu lupa ya ?!”
Nurul tidak menjawab, hanya menunduk, tidak berani menatap wajah ibunya.
“Kita harus kasih kabar ke orang tua Soleh. Kamu musti ikut !”
Nurul mengangguk, lalu ia mengikuti ibunya keluar rumah. Tak lama, mereka sudah berada di rumah Soleh. Ibunda Soleh langsung jatuh lemas begitu mendengar bahwa Soleh bermain petak umpet. Melihat itu, Nurul merasa ada hal yang disembunyikan oleh para orang dewasa di desa ini. Tetapi ia tidak menanyakannya. Ayah Soleh meminta bantuan beberapa laki-laki dewasa untuk mencari Soleh dan teman-temannya. Dan Nurul diminta menunjukkan tempat dimana mereka bermain petak umpet. Malam semakin larut, dan mereka mulai mencari dalam gelap. Nurul hanya bisa duduk menunggu dengan perasaan bersalah, karena tidak melarang Soleh. Sekitar dua jam kemudian, pencarian dihentikan dan Soleh serta teman-temannya dinyatakan hilang tanpa jejak. Tampak jelas kekecewaan bercampur rasa sedih pada wajah kedua orang tua Soleh, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Dan bayangan wajah keduanya terekam jelas dalam ingatan Nurul, sampai ia dewasa.

11 tahun kemudian
Nurul telah beranjak menjadi gadis remaja, dan telah pindah ke sebuah kota besar. Ia mendapat pekerjaan sebagai seorang reporter sebuah televisi swasta yang terdapat di kota itu. Walau begitu, ia masih tetap tidak dapat melupakan kejadian masa kecilnya; Ketika tidur, kadang ia bermimpi sedang berjalan di antara pepohonan di pinggir desanya, mencari Soleh dan teman-temannya. Dan akhirnya masa lalunya itu kembali menghampirinya.
Pada suatu hari yang cerah di bulan November, tepatnya 1 hari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-18, ia mendapat sebuah tugas dari atasannya, untuk meliput sebuah kejadian aneh pada sebuah desa. Nurul sangat terkejut ketika mendengar nama desa tempat kejadian itu terjadi.
“De.. Desa Sumur Batu ? Me.. memangnya, ada kejadian apa, Pak ?”
“Ada beberapa orang turis yang sedang berkunjung ke desa tersebut, yang sepertinya menghilang. Sudah 2 hari mereka tidak berada di tempat penginapan, dan penduduk desa juga mengatakan tidak pernah melihat mereka selama 2 hari itu. Coba kamu cari berita mengenai masalah ini.”
“Apa polisi sudah melakukan penyelidikan ?”
Atasannya itu termenung sesaat, lalu menjawab, “Itulah yang aneh. Sepertinya di desa itu tidak ada polisi sama sekali, dan penduduk desa juga agak aneh. Mereka seperti.. menyembunyikan hal ini dari pihak luar. Aku sendiri mendapat laporan mengenai kejadian ini, dari seorang rekan saya yang kebetulan singgah di desa itu.”, lalu atasannya menengok kepada Nurul sambil berkata, “Nurul, kamu jangan mengatakan kepada mereka, kalau kamu seorang reporter ! Mereka pasti tidak akan mengatakan apapun jika kamu mengaku sebagai wartawan.”
Mendengar itu, Nurul hanya bisa mengangguk sambil menjawab, “Baik Pak, saya mengerti.”
Ketika sedang berjalan di lorong studio, ia termenung memikirkan hal itu.
“Desa Sumur Batu, desa tempat asalku dahulu. Dan kejadian yang sama seperti yang dulu menimpa Soleh, kembali terjadi lagi disana. Kali ini, aku tidak akan melarikan diri lagi.
Aku akan menyelidikinya, dan mencari tahu rahasia apa yang disembunyikan para penduduk !”

Tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-18, pagi-pagi benar Nurul sudah berangkat menuju Desa Sumur Batu, desa tempatnya berasal; Bukan untuk merayakan hari ulang tahunnya, melainkan untuk tugasnya sebagai reporter, sekaligus untuk menyelidiki kejadian pada masa lalunya.
Setelah melalui perjalanan melelahkan naik bis melewati daerah pegunungan, akhirnya Nurul sampai juga di Desa Sumur Batu. Matahari sudah berada pada puncaknya, ketika Nurul turun dari bis yang membawanya. Nurul memperhatikan sekelilingnya, lalu menarik nafas dalam-dalam.
“Akhirnya aku kembali kemari. Abah, emak, bagaimana keadaan kalian ?”
Lalu Nurul berjalan memasuki desa. Tampak olehnya beberapa pemuda desa sedang mencangkul sawah mereka, sementara yang lainnya menebang pohon. Ada juga anak-anak sekolah berlari-lari di pematang sawah, sepertinya baru pulang dari sekolah. Nurul berhenti sejenak, tersenyum.
“Semuanya tidak berubah, masih seperti dulu ketika aku meninggalkan desa ini.
Kira-kira, apa ada yang masih ingat denganku ya ?”
Akhirnya Nurul sampai di sebuah rumah penginapan tempatnya tinggal selama beberapa hari. Seorang kakek tua yang sudah agak bungkuk, menyambutnya dengan ramah dan sopan.
“Apakah Anda datang dari kota ? Selamat datang di desa kami, Desa Sumur Batu. Penginapan ini memang kecil dan sangat sederhana, tapi saya harap Anda bisa kerasan disini.”
Setelah berkata demikian, kakek itu mengantar Nurul menuju kamarnya. Ketika kakek itu hendak pergi, Nurul bertanya, “Kakek, maaf, tapi bolehkah saya menanyakan sesuatu ?”
Kakek itu berhenti, lalu menengok sambil tersenyum ramah.
“Apa yang hendak ditanyakan ?”
“Saya dengar, sejak beberapa hari yang lalu, ada pengunjung seperti saya yang menghilang. Apa kakek mengetahui sesuatu ?”
Mendengar pertanyaan Nurul, wajah kakek itu langsung berubah; Senyumnya menghilang, dan berganti dengan wajah marah.
Lalu, sambil berjalan pergi, beliau menjawab, “Saya tidak tahu apa-apa !”
Nurul terpana beberapa saat melihat perubahan sikap yang begitu mendadak dari Sang kakek pemilik penginapan. Lalu akhirnya ia duduk sambil menggelengkan kepala.

Tempat pertama yang dikunjungi Nurul adalah rumahnya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat rumahnya dalam keadaan rusak dan tidak ditinggali lagi. Kepada seseorang yang kebetulan lewat di situ, Nurul bertanya, “Maaf Pak, orang yang dulu tinggal disini pindah kemana ?”
Laki-laki setengah baya yang membawa cangkul itu memperhatikan Nurul dengan tajam.
“Kamu orang luar ? Jangan berbuat macam-macam, kalau nggak ingin ‘menghilang’ seperti yang kemarin itu !”
Mendengar jawaban itu, Nurul untuk kedua kalinya terkejut. Sementara orang itu melanjutkan perjalanannya.
“Kenapa mereka sepertinya nggak suka dengan orang luar ?
Lalu, apa yang terjadi dengan keluargaku ?”
Nurul menarik nafas panjang, lalu pergi menuju pinggiran desa, tempat terakhir ia melihat Soleh. Ketika melihat sebuah pohon besar, sekilas ia teringat akan hari itu.
“Kalau aku tidak terpilih jaga pertama, apakah aku juga akan menghilang ?”
Tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya, “Hey kamu, ngapain kamu disitu ?!”
Nurul menengok, dan melihat seorang pemuda desa bertelanjang dada dengan membawa cangkul, dan sebuah handuk dekil tersandang di pundaknya, berdiri menatapnya dengan pandangan tajam.
“E.. eh, saya hanya...”
“Itu tempat yang nggak boleh dimasukkin, apa kamu nggak tahu ? Cepat pergi !”
Nurul terkejut, “Tempat yang nggak boleh dimasukkin ?”, lalu ia berlari mendekat ke arah si pemuda tersebut, “Kenapa ?”
Ditanya seperti itu, wajah pemuda tersebut tampak kebingungan.
“Yah, kalau kamu tanya sih, aku juga sebenarnya nggak tahu. Menurut abah, dulu disini pernah ada yang ilang disembunyikan setan, jadi aku nggak boleh ke sana.”
Mendengar itu, Nurul terdiam. Ia sadar, bahwa yang dimaksud ‘ilang disembunyikan setan’ pasti-lah Soleh dan kawan-kawannya.
Tiba-tiba pemuda itu bertanya lagi, “Eh, apa kamu orang dari luar desa ?”
“I.. iya, memangnya kenapa ?”
Reaksi pemuda itu sangat berbeda dengan orang-orang yang sebelumnya ditemui Nurul; Pemuda itu tersenyum gembira.
“Wah, aku senang banget bisa ketemu orang luar. Apa kamu dari kota ? Ceritakan dong, kota itu kayak apa sih ?”, lalu sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, ia berkata, “Maklum aja, aku dari lahir nggak pernah keluar dari desa ini.”
Nurul-pun tersenyum, “Boleh saja. Tapi kamu juga harus menceritakan mengenai desa ini ya ?”

Pemuda itu mengajak Nurul ke sebuah rumah gubuk kecil di pinggiran desa.
“Inilah rumahku. Memang kecil, tapi yah... memang beginilah keadaanku. Disini aku tinggal bersama dengan emakku yang udah tua, karena abah mati setahun yang lalu.”
Ketika pintu dibuka, dari dalam rumah terdengar suara, “Ali, apa kamu udah pulang ?”
“Iya emak, kebetulan hari ini kerjaan cepat selesai. Dan, aku bawa tamu nih.”
Di dalam rumah itu, Nurul melihat seorang wanita tua dengan rambut yang hampir seluruhnya sudah memutih, berwajah keriput, dan memakai baju yang sudah agak kumal. Dengan berjalan tertatih-tatih, ia mendekati mereka.
“Aduh Ali, kenapa kamu membawa gadis cantik ini ke gubuk kita ?”, lalu wanita tua itu menengok ke arah Nurul, “Maaf ya, anak ini memang suka seenaknya saja. Tempat ini nggak cocok untuk gadis secantik kamu.”
Sambil tersenyum, Nurul menjawab, “Nggak apa-apa kok. Dulu waktu masih kecil, saya juga tinggal di tempat seperti ini.”
“Eh ?”, wanita tua itu memperhatikan Nurul, “Jadi kamu.. bukan berasal dari kota ?”
“Sekarang saya memang tinggal di kota besar, tetapi ketika kecil saya tinggal di desa.”
“Oh, begitu.”, lalu wanita tua itu tertawa, “Kalau gitu, silahkan ngobrol dulu dengan Ali. Saya akan menyiapkan hidangan.”
Lalu wanita tua itu membalikkan badan sambil terbatuk-batuk. Sementara Ali, si pemuda tersebut, telah menyiapkan sebuah bangku untuk Nurul.
“Silahkan duduk. Maaf kalau rumah ini berantakan, karena nggak ada yang ngurus.”
Setelah Nurul duduk, Ali langsung menanyakan banyak hal mengenai kota. Ketika Nurul bercerita, Ali mendengarkan dengan penuh semangat. Dan akhirnya, tiba giliran Nurul yang bertanya mengenai desa tersebut.
“Aku dengar, katanya beberapa hari yang lalu, ada beberapa orang dari luar desa yang hilang ya ? Sebenarnya, gimana kejadiannya ?”
Ali terdiam sejenak, lalu menjawab, “Kayaknya orang-orang itu masuk ke dalam daerah terlarang tadi. Dan sejak itu, tidak ada seorang-pun yang melihat mereka lagi. Kenapa kamu tertarik dengan hal itu ?”
“Ah, itu...”, Nurul berusaha mencari alasan yang tepat, “... karena hal itu sepertinya menarik. Aku ini seseorang yang menyukai misteri, jadi rasanya penasaran kalau ada kejadian seperti itu.”
Tiba-tiba wanita tua ibunda Ali menyeletuk, “Penasaran sih boleh-boleh aja, tapi kalau tidak ati-ati, nanti bisa ilang juga kayak mereka ! Pokoknya, jangan masuk ke daerah terlarang itu !”
Nurul-pun mengangguk, “Tenang saja, saya akan ingat nasehat Anda. Saya tidak akan masuk kesana.”

Kembali ke rumah penginapan, Nurul menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
“Huh, memangnya aku bisa ditakut-takuti dengan peringatan seperti itu ?! Aku sudah berjanji, masalah ini akan kuselidiki sampai tuntas !”
Kemudian ia melihat keluar jendela sambil menghela nafas.
“Jika dilihat sekilas, penduduk desa ini tidak ada bedanya dengan penduduk daerah lainnya. Tapi mereka sangat anti terhadap orang luar. Apa hal itu ada hubungannya dengan masalah hilangnya para pendatang itu ? Dan, apa sebenarnya yang mereka sembunyikan ?”
Nurul menengok ke arah jam tangannya. Ternyata sudah hampir Pk 18.00.
“Hmm, tak lama lagi menjelang maghrib. Kejadian hilangnya orang-orang itu juga pasti terjadi pada saat-saat seperti ini.”
Sekilas ia kembali teringat akan kejadian itu, dan perasaannya menjadi sedikit takut. Tetapi kemudian ia mengepalkan tangannya erat-erat di depan dada, sambil berkata, “Tidak, Nurul, kamu tidak boleh takut ! Ingat, kamu harus mencari kebenaran di balik kejadian-kejadian ini bukan ? Dan juga, penyebab hilangnya Soleh !”
Nurul kembali melihat keluar jendela.
“Kebenaran itu pasti akan kutemukan !”

Sementara penduduk desa pergi menuju masjid, Nurul pergi menuju ke daerah yang terlarang itu. Di tempat itu memang ada sebuah papan peringatan, agar tidak memasuki daerah itu. Tetapi sepertinya orang-orang yang sebelumnya hilang, telah mencopot papan tersebut. Nurul melihat papan tersebut tergeletak di tanah begitu saja. Baru saja ia hendak melangkah, ketika tiba-tiba ia merasakan suatu perasaan aneh; Perasaan seperti ketika hilangnya Soleh dan kawan-kawan. Ketika ia menengok ke langit, langit tampak begitu gelap tak berbintang. Nurul kembali mengepal tinjunya erat-erat, lalu melangkah maju memasuki daerah terlarang itu. Begitu gelap, bahkan cahaya dari desa-pun tidak terlihat. Nurul menyalakan senter yang dibawanya, dan ternyata ia berada di antara pepohonan. Tiba-tiba ia mendengar suara-suara...
‘Tolong... tolonglah kami.’
‘Temukanlah kami, wahai pendatang.’
‘Tidak, aku tidak mau berada disini. Gelap sekali, tolong keluarkan aku...’
Suara terakhir yang didengarnya, membuat Nurul tertegun. Walau sudah lama, ia sangat mengenal suara tersebut. Dengan sedikit gemetar, ia mencoba memanggil.
“So.. Soleh... apa itu.. kamu ?”
Sunyi, tanpa jawaban. Suara-suara itu tidak terdengar lagi oleh Nurul, berganti menjadi udara dingin yang sangat menusuk. Nurul kembali menyusuri hutan itu dengan sedikit menggigil, hingga akhirnya ia tiba di depan sebuah gua. Dan tepat ketika itu, ia kembali mendengar suara-suara itu...
‘Ayo, masuklah kemari.’
‘Kami sudah lama menunggumu.’
‘Cepatlah masuk dan tolong aku...’
Dan Nurul merasakan adanya suatu dorongan kuat agar ia masuk ke dalam gua tersebut. Mati-matian Nurul berusaha menahan agar dirinya tidak mengikuti dorongan itu, dan akhirnya Nurul lompat menjauh dari pintu gua.
“A.. apa ini ? Aku.. seakan-akan ditarik masuk ke dalamnya, bahkan sampai hatiku juga begitu ingin memasukinya ? Apa mungkin.. gua ini yang ingin disembunyikan penduduk desa ?”
Tiba-tiba Nurul merasa ada yang sedang mengawasinya. Dengan cepat ia menyorotkan lampu senternya ke segala penjuru, tetapi tidak ada siapa-siapa selain pohon-pohon yang letaknya begitu rapat. Nurul kembali menyorotkan senternya ke arah pintu gua, dan kali ini ia sangat terkejut.
Di dalam gua tampaklah seorang anak kecil yang seperti Soleh. Nurul langsung bangkit berdiri, lalu memanggilnya, “Soleh !”
Anak kecil itu berlari memasuki gua.
“So.. Soleh, tunggu !”
Dan tanpa sadar, Nurul-pun berlari mengikuti Soleh memasuki gua itu.

Sebenarnya ketika Nurul hendak memasuki daerah terlarang itu, Ali melihatnya, lalu memutuskan untuk mengikutinya dengan diam-diam. Tetapi tidak seperti Nurul, Ali tidak mendengar suara apapun juga. Melihat Nurul memasuki gua, Ali untuk sesaat merasa ragu.
“Lebih baik aku mengikutinya, atau menahannya ? Tapi aku juga penasaran...”
Belum sempat Ali berpikir lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara jeritan Nurul dari dalam gua. Tanpa berpikir lagi, ia segera masuk ke dalam gua. Ia hanya melihat senter Nurul yang tergeletak di dasar gua. Ia membungkuk untuk mengambil senter tersebut, tetapi tiba-tiba muncul tangan-tangan dari dasar gua yang hendak memegang tangannya. Ali langsung melompat ke belakang.
“A.. apa ini ?”
Kebetulan ketika melompat mundur, tangannya memegang sepotong kayu. Dengan potongan kayu itu, ia memukul-mukul tangan-tangan tersebut. Akhirnya tangan-tangan itu kembali masuk ke dasar gua, dan Ali bisa mengambil senter milik Nurul tersebut. Ia menyorotkan senter ke dasar gua itu.
“Apa mungkin Mbak Nurul ditarik oleh tangan-tangan itu ?”
Kemudian ia menggelengkan kepalanya keras-keras, lalu menyorotkan senter ke arah depannya. Ketika hendak melangkah, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang kecil.
‘Gelap sekali disini. Siapapun, tolong.. tolonglah aku...’
“Mbak Nurul, Anda berada dimana ? Jawablah !”
‘Aku takut sekali, cepat tolong aku...’
Ali mengarahkan senter yang dipegangnya ke seluruh penjuru gua, tetapi tidak tampak sosok manusia sama sekali. Akhirnya ia kembali mengarahkan senter itu ke dasar gua.
“Sepertinya tidak ada cara lain. Aku juga harus masuk untuk menolong Mbak Nurul.”
Ia-pun mengulurkan lengannya, dan sama seperti tadi, tiba-tiba muncullah puluhan tangan yang menarik lengannya. Perlahan tapi pasti, tubuh Ali masuk ke dasar gua.

Gelap, dingin dan sangat sulit untuk bernafas; Itulah yang dirasakan oleh Ali. Sekujur tubuhnya tidak bisa bergerak, dan perlahan-lahan kesadarannya semakin menipis.
“Gawat, kalau terus begini, aku pasti mati ! Aku.. harus melakukan.. sesuatu...”
Ali mengerahkan seluruh tenaga untuk menggerakkan tubuhnya, tetapi seluruh tubuhnya sudah mati rasa dan seakan-akan bukan merupakan tubuhnya lagi; Hanya kesadarannya saja yang tersisa di tempat itu.
“Apa aku sudah mati ? Apakah Mbak Nurul juga sudah mati ? Aku.. takut sekali...”
Tiba-tiba ia teringat akan kata-kata yang tadi didengarnya, ‘Aku takut sekali, cepat tolong aku...’
Dan ia menyadari, Nurul pasti juga mengalami hal yang sama.
“Berarti, baik aku maupun Mbak Nurul belum mati. Tetapi kalau kami tidak dapat lepas dari tempat ini, pastilah kami akan mati ! Apa yang harus kulakukan ?”
Di sisi lain, Nurul juga merasakan kesadarannya semakin menipis. Tetapi entah mengapa, walau merasa sangat ketakutan, pikirannya tidak bisa terlepas dari Soleh.
“Apa dulu Soleh juga mengalami kejadian ini ?
Apa dia juga ketakutan, sama seperti aku saat ini ? Soleh, aku ingin ketemu lagi denganmu...”
Antara sadar dan tidak, tiba-tiba Nurul merasa melihat Soleh kecil berdiri di hadapannya.
‘Nurul, akhirnya kamu berhasil menemukanku. Aku senang kamu terus mencariku, tetapi tempatmu bukan disini ! Kembalilah, kembalilah ke tempatmu seharusnya berada.’
Lalu Soleh kecil berbalik dan pergi. Nurul yang tidak dapat menggerakkan mulutnya, hanya dapat menjerit dalam hati.
“So.. Soleh, tunggu ! Aku.. dari dulu ingin bilang ini padamu : walaupun kamu sering berbuat nakal, tetapi aku selalu.. menyukai Soleh.”
Sebuah sinar menyilaukan muncul, dan Nurul masih sempat mendengar suara Soleh kecil yang menjawab, ‘Terima kasih.’

Ketika tersadar, Nurul mendapati dirinya terbaring di dasar gua. Sebuah senter yang masih menyala tergeletak tak jauh darinya. Ketika Nurul hendak mengambil senter tersebut, ia terkejut melihat sebuah handuk dekil di samping senter tersebut. Nurul teringat, ketika bertemu dengan Ali pada siang harinya, handuk yang sama terlihat di pundak Ali.
“A.. apakah Ali tadi.. mengikutiku masuk ke gua ini ?
Kalau begitu, apa ia juga ditarik tangan-tangan itu ?”
Dengan tangan kosong, Nurul berusaha menggali dasar gua itu.
“Ali, bertahanlah, aku akan menolongmu !”
Walau tangannya terluka, Nurul terus berusaha menggali dasar gua yang keras dan dingin. Hingga akhirnya terdengar sebuah suara dari belakang, “Mbak Nurul, Anda.. selamat.”
Nurul menengok dan terkejut; Rupanya Ali terbaring tak jauh di belakangnya.
“Ali, kamu.. tidak ditarik oleh tangan-tangan itu ? Syukurlah.”
Ali menggeleng dengan lemah, “Tidak juga. Aku juga merasa ditarik oleh tangan-tangan itu, tetapi rupanya semua itu hanya perasaan kita saja. Kenyataannya, dari tadi aku hanya terbaring disini dalam keadaan mati rasa. Aku mendengar suara Mbak Nurul yang memanggilku terus menerus, jadi kesadaranku bisa pulih. Apa jadinya jika Mbak Nurul tidak memanggilku terus menerus ya ?”
Mendengar pertanyaan itu, Nurul terdiam.
“Pada kenyataannya, aku juga ditolong oleh Soleh.”
Tiba-tiba ia terkejut menyadari sesuatu.
“Kalau begitu, dulu Soleh juga menghilang di gua ini ! Lalu, dimana ia sekarang ?”
Nurul menyoroti senternya ke bagian gua yang lebih dalam, dan ia terpekik. Ali ikut menengok ke arah tempat cahaya senter menyorot, dan melihat beberapa mayat dan tumpukkan tulang belulang manusia terdapat di tempat itu.

Menjelang tengah malam, di balai desa berkumpullah warga desa bersama dengan kepala desa. Pemilik penginapan telah melaporkan bahwa gadis yang berasal dari kota itu tidak berada di kamar penginapan.
“Gimana ini Pak Kepala Desa ? Jangan-jangan dia juga ngilang kayak orang-orang kemaren itu !”
“Orang luar desa bisa makin curiga, kalau makin banyak orang yang ilang di desa ini. Bisa-bisa mereka mulai menyelidikinya !”
Kepala desa terdiam sejenak, lalu berkata, “Mungkin aja gadis itu cuma jalan-jalan aja. Coba kita cari sama-sama.”
Semua orang desa mengangguk. Tetapi baru saja mereka hendak berjalan keluar balai desa, ketika tiba-tiba Nurul muncul.
“Wah, ramai sekali disini. Apa sedang ada pertemuan penting ?”
Sang kakek tua pemilik penginapan maju dengan pandangan berang.
“Nona pergi kemana tengah malam begini ? Kami baru aja bermaksud hendak mencari Anda !”
Nurul memandang kakek itu, lalu juga seluruh penduduk desa yang berkumpul di situ.
“Apakah kalian mengkhawatirkanku ? Atau mungkin..”, Nurul tersenyum penuh arti, “.. takut rahasia kalian terbongkar olehku ?”
Mendengar kata-kata Nurul, seluruh penduduk desa terkejut.
Giliran kepala desa yang maju sambil bertanya, “A.. apa maksud Anda, nona ? Rahasia apa ?”
Dengan tetap tersenyum, Nurul menjawab, “Yah.. misalnya saja, tumpukan tengkorak di dalam gua di tengah hutan itu ?”
“A.. APA ?!”, mereka memandang Nurul dengan pandangan tidak percaya, “Ba.. bagaimana kamu bisa...”
Wajah Nurul langsung berubah menjadi serius.
“Apa kalian masih ingat, sekitar 11 tahun yang lalu, ada beberapa anak kecil yang menghilang akibat main petak umpet sesudah maghrib ? Saat itu, anak perempuan yang kebetulan mendapat giliran jaga menjadi satu-satunya yang selamat dalam peristiwa itu !”
Mereka terdiam mendengar kata-kata Nurul. Akhirnya kepala desa memecah kesunyian.
“Jadi, kamu Nurul, anak perempuan yang selamat itu ? Pantas, saya sepertinya mengenalmu.”
“Waktu itu aku sudah merasa aneh dengan sikap orang tua Soleh dan semua penduduk desa, yang sepertinya tahu rahasia di balik hilangnya Soleh dan teman-temannya. Sekarang jawablah, tulang belulang siapakah yang kutemukan di dalam gua itu ?!”
Tiba-tiba saja kepala desa tertawa terbahak-bahak.
“Nona Nurul, apa Anda pikir kami akan menjawab pertanyaan Anda begitu saja ? Apa kami akan berdiam diri aja setelah Anda tahu rahasia kami ?”
Lalu beliau mengeluarkan sebilah celurit, “Hati-hati nona, di desa kami banyak sekali orang luar yang menghilang.”

Baru saja kepala desa hendak maju untuk menyerang Nurul, ketika tiba-tiba terdengar suara, “Tunggu dulu !”
Ali dan beberapa pemuda desa masuk ke balai desa, lalu mereka berdiri di depan Nurul.
“Pak kepala desa, kalau Anda ingin membunuh Mbak Nurul, Anda harus melewati kami dulu !”
Para orang tua yang ada di balai desa tersebut terkejut, melihat Ali bersama dengan putera-putera mereka melakukan hal tersebut.
“A.. apa-apaan ini ? Kenapa kalian membela dia ?!”
Sambil tersenyum mengejek, Ali menjawab, “Karena aku juga ada di gua itu ! Dan kami semua sudah muak dengan kebohongan kalian !”
Mendengar jawaban Ali, mereka semua terdiam. Akhirnya Nurul memecah keheningan.
“Walaupun kalian tetap tidak mau menjawab, suatu saat kebenaran pasti akan terungkap ! Suatu hari akan ada orang yang mengetahui, tulang belulang siapakah yang ada di dalam gua tersebut.”
Sementara dari belakang orang-orang yang berkumpul di balai desa, terdengar sebuah suara.
“Itu tidak perlu ! Sebenarnya kami juga sudah capek, terus menerus menyembunyikan dosa ini.”
Orang-orang menyingkir, dan terlihatlah ibunda Ali sedang berjalan tertatih-tatih.
“Emak ?”, Ali terkejut, “Kenapa emak ikut ngumpul disini ?”
“Karena emak juga sama kayak mereka; Menutupi dosa lama dan terus membuat dosa yang baru. Tapi emak udah capek hidup begini terus.”
Kemudian ia memandang ke arah Nurul.
“Nak Nurul, kamu memang ber-hak tahu apa yang sebenarnya pernah terjadi di desa ini berpuluh tahun yang silam.”, lalu ia mengitarkan pandangannya ke seluruh ruangan, “Juga semua yang ada di tempat ini, ber-hak tahu.”
Dan, Sang nenek-pun mulai bercerita.....

Tanggal 31 September 1965, seluruh bangsa Indonesia dihentakkan dengan kejadian penculikkan dan pembunuhan para petinggi TNI angkatan darat. Kejadian yang lebih dikenal dengan sebutan peristiwa G 30 S – PKI itu didalangi oleh Partai Komunis Indonesia, yang ingin mengubah dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila menjadi komunis. Tetapi pada saat ini, akhirnya diketahui bahwa PKI hanyalah dijadikan sebagai alat bagi tujuan utama, yaitu melengserkan pemerintah yang berkuasa secara tidak langsung. Setelah kejadian itu, pada tanggal 11 Maret 1966 keluarlah sebuah surat perintah, yang dikenal dengan nama Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret), yang memberi hak bagi Letnan Jendral Soeharto untuk memusnahkan PKI dan seluruh antek-anteknya dari muka bumi Indonesia. Maka, pengejaran terhadap setiap orang yang mendapat cap ‘antek PKI’-pun berlangsung dengan gencar. Penahanan dan pembuangan terjadi di seluruh penjuru nusantara.
Pada suatu siang yang cerah di bulan Mei 1966, di Desa Sumur Batu.
Beberapa orang laki-laki, bersama dengan istri dan anak-anak mereka yang masih bayi, datang ke Desa Sumur Batu. Sekujur tubuh mereka kotor, dan ada beberapa bekas luka, yang sepertinya luka akibat tembakan. Mereka datang dan mohon kepada kepala desa, agar mereka dapat bersembunyi di desa itu. Pada awalnya kepala desa dan seluruh penduduk desa menyambut mereka dengan ramah, dan bersedia menyembunyikan mereka. Tetapi lalu tersiar isu, bahwa ada hadiah besar bagi yang dapat menyerahkan para buronan PKI kepada pemerintah. Dan akibatnya, terjadilah tragedi itu.
Pada suatu malam menjelang maghrib, penduduk desa mendatangi gua tempat persembunyian para buronan itu beserta keluarganya yang terletak di pinggir desa. Mereka datang membawa tongkat dan garu tanah sebagai senjata.
“A.. apa-apa’an ini ? Kenapa wajah kalian begitu menyeramkan ? Dan.. mengapa bawa tongkat segala ?”
Kepala desa maju dan berkata, “Kami tidak ingin berbuat kasar kepada kalian, jadi lebih baik kalian tidak melawan. Ikutlah bersama kami dengan baik-baik.”
“Ikut kalian ?”, lalu wajah laki-laki yang menjadi pimpinan kelompok buronan itu berubah marah, “Jadi, kalian akan menyerahkan kami kepada pihak pemerintah ?! Bukankah sudah kami katakan, kami hanyalah korban fitnah ! Kami bukanlah antek-antek PKI !”
Seorang penduduk langsung memotongnya, “Kalau memang bukan antek PKI, kenapa kalian harus kabur ? Itu tandanya kalian memang salah !”
“Kami difitnah dengan bukti-bukti palsu ! Saat ini kami sudah tidak bisa membela diri lagi. Apa kalian nggak percaya dengan kami ?”
Untuk sejenak, mereka semua terdiam. Tetapi tiba-tiba kepala desa tertawa dengan keras.
“Apa kalian benar-benar terlibat atau tidak, itu sudah tidak penting lagi. Yang penting adalah, kalian buronan dan kami akan dapat hadiah besar jika menyerahkan kalian, itu saja. Sekarang ikutlah baik-baik dengan kami !”
“Ka.. kalian...”
Ketika beberapa penduduk maju hendak menangkap mereka, mereka-pun melawan. Akhirnya perkelahian tidak terelakkan lagi. Seorang anak langsung dipeluk ibunya ketika sebuah garu tanah hampir mengenai tubuhnya. Anak itu hanya terpana, sementara tubuh ibunya tergeletak di tanah bersimbah darah. Sambil memeluk tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa, anak itu berkata, “Apa kalian masih menganggap diri manusia ?! Kalian tidak ada bedanya dengan binatang buas yang hanya mengejar uang !”
Akhirnya tidak ada seorang-pun di antara para buronan yang masih hidup; Termasuk wanita dan anak-anak. Melihat itu, para penduduk desa menjadi takut.
“Pak kepala desa, gimana ini ? Mereka semuanya mati.”
Kepala desa terdiam sejenak. Lalu akhirnya ia berkata, “Sial, kalau gini, kita nggak bisa dapet hadiah itu.”
Kemudian ia memandang semua penduduk desa yang ada di sekitar gua sambil berkata, “Semua, dengar ya ! Jangan sampai ada orang luar yang tahu kejadian hari ini. Kita harus merahasiakan kejadian ini !”

“Maka sejak itu, semua penduduk desa terus menerus menyembunyikan kejadian itu.”, kata ibunda Ali mengakhiri ceritanya.
“Itu sebabnya, daerah itu menjadi terlarang bagi orang luar. Kalau begitu, cerita mengenai setan penculik yang akan beraksi pada saat main petak umpet menjelang maghrib itu bohong belaka ?”
“Itu sebenarnya...”, untuk sesaat, tampak Sang nenek merasa ragu.
Tiba-tiba... “Cukup sampai situ !”
Celurit yang ada di tangan kepala desa menebas perut ibunda Ali. Nenek tua itu langsung jatuh bersimbah darah. Semua itu berlangsung sangat cepat, dan orang-orang yang berada di balai desa hanya dapat melongo melihat kejadian itu. Ali terdiam beberapa saat, baru akhirnya memeluk tubuh ibundanya sambil menjerit, “Emak !”

Sementara penduduk desa yang berada di balai desa menjadi sangat ketakutan.
“Pa.. Pak kepala desa, kenapa Anda.. sampai membunuh emaknya Ali ?”
“Dia terlalu banyak bicara ! Dulu sudah pernah kubilang khan, selama aku masih hidup, takkan kubiarkan rahasia ini bocor ! Jadi jika perlu, aku akan menyingkirkan orang-orang yang bisa membahayakan desa kita ini.”
DEG ! Tiba-tiba Nurul menyadari sesuatu.
“Bapak dan emakku, apa mereka..”, wajah Nurul semakin pucat, “.. juga ‘disingkirkan’ ?!”
Kepala desa tidak menjawab; Hanya serigainya semakin mengerikan.
Tiba-tiba sebuah tinju mendarat tepat di rahang kepala desa. Tubuh kepala desa terlontar cukup jauh dan celurit di tangannya terjatuh. Ali langsung mengambil celurit itu dan hendak menyerang kepala desa yang sudah terkapar di tanah, tetapi beberapa penduduk desa segera menahannya.
“Ali, tahan emosimu !”
Sambil meronta, Ali berkata, “Kalau tidak ada dia, emak tidak akan menderita ! Kalau tidak ada dia, emak masih hidup !”
Tiba-tiba terdengar suara lemah, “Ali... henti..kan... !”
Mendengar itu, Ali dan penduduk desa tertegun. Bersama-sama mereka menengok ke arah ibunda Ali, yang rupanya masih hidup. Ali segera melepaskan diri, lalu berlari ke arah ibundanya.
“Emak, rupanya emak masih hidup !”
Ibunda Ali terbatuk darah, kemudian berkata, “Aku.. ber..tahan, untuk.. memberi..tahu..kan sebuah ra..hasia.. padamu... uhuk uhuk...”
“Emak, jangan bicara lagi ! Aku akan membawamu ke rumah sakit.”
Ketika Ali hendak menggendong tubuh ibundanya, ibundanya malah menepis tangan Ali.
“Per..cuma... Emak.. nggak kuat.. lagi. Ali, dengar ! Kamu.. bukan anak..ku yang.. sebenarnya.”
Mendengar itu, bola mata Ali terbelalak. Ia memandang wajah ibundanya dengan pandangan tidak percaya.
“Emak, apa.. maksudmu ?”
“Aku.. bukan.. emakmu ! Uhuk..”, Sang nenek kembali batuk mengeluarkan darah, “Emakmu.. yang sebe..narnya.. sudah.. meninggal. Sama seperti.. Nurul, ia juga.. berhasil.. menemukan gua.. itu, tetapi.. ketahuan.. kepala desa. Setelah.. membunuh emak..mu, kepala desa juga.. bermaksud.. membunuhmu. Aku.. mati-matian.. memohon, agar kamu.. tidak dibunuh. Akhirnya.. kepala desa.. setuju.. dengan janji.. aku takkan.. cerita.. ke kamu.. uhuk uhuk.”
Ali terdiam, sementara air matanya terus mengalir di pipinya.
“Maaf..kan aku, Nak. Emak.. kandungmu.. ada di.. gua itu.”
Setelah berkata demikian, Sang nenek kembali terbatuk darah berulang-ulang. Ali yang masih terdiam, tersadar kemudian menjadi panik, “Emak, bertahanlah ! Aku.. tidak pernah bertemu emak kandungku, jadi bagiku, emak adalah emak Ali satu-satunya !”
Mendengar kata-kata Ali, nenek itu tersenyum dan berkata, “Teri..ma.. ka..sih...”
Untuk terakhir kalinya ia terbatuk darah, lalu kemudian menutup mata untuk selama-lamanya.

Sementara, ketika semua perhatian teralih ke arah Ali dan emaknya, diam-diam kepala desa melarikan diri. Dalam kegelapan malam, ia hanya bisa lari tanpa tahu arah. Tanpa disadarinya, ia berlari menuju daerah terlarang itu. Ia berhenti sejenak dengan nafas terengah-engah.
“Ini... dimana ?”
Tiba-tiba kepala desa merasa ada tangan yang memegang kakinya. Dengan cepat ia menarik kakinya, lalu melangkah mundur.
“Si.. siapa itu ? Ja.. jawablah !”
Untuk kedua kalinya, ia merasa ada yang memegang kakinya. Belum sempat ia melepaskan diri, tangan lainnya juga ikut memegang, bahkan menariknya hingga terjerembab ke tanah. Pada saat itu, kepala desa baru sadar kalau tangan-tangan itu muncul dari tanah.
“I.. ini...”, untuk sesaat kepala desa merasa takut, tetapi kemudian kesombongannya kembali menguasai dirinya, “Cih, rupanya kalian ingin membalas dendam padaku ya ?! Huh, aku bukan orang yang lemah ! Aku pernah membunuh kalian, aku bisa melakukannya lagi !”
Dengan celurit di tangannya, ia memotong-motong tangan-tangan itu. Beberapa tangan akhirnya masuk kembali ke dalam tanah sambil mengeluarkan jeritan memilukan.
Kepala desa-pun tertawa dengan penuh rasa kemenangan.
“Hahaha... ternyata kalian hanya bisa menakut-nakuti saja ! Lebih baik kalian cepet-cepet ke akhirat deh !”
Kemudian ia-pun kembali berjalan dalam gelap, berusaha menemukan cahaya. Tiba-tiba terlihat sekilas cahaya dari kejauhan, dan kepala desa-pun berlari mendekat ke arah cahaya itu. Betapa terkejutnya dia, ketika menyadari bahwa cahaya itu berasal dari dalam gua tempat mayat-mayat itu selama ini disembunyikan.
“Jangan bercanda ! Apa kalian pikir aku mau begitu aja masuk ke dalam ?!”
Ketika ia berbalik hendak pergi dari situ, ketika ia mendengar sesuatu yang menyerupai bisikan. Kepada desa terdiam sejenak, tetapi desisan itu semakin mendekat. Akhirnya ia menengok. Tetapi tepat ketika ia menengok, suara-suara itu hilang, hanya cahaya remang-remang yang berasal dari dalam gua saja yang ada. Baru saja ia kembali membalikkan badan, suara-suara itu kembali terdengar.
“Huh, kalian pikir aku takut dengan kalian hah ?! Kalau kalian begitu ingin aku masuk ke dalam, baiklah, aku akan masuk ! Aku tidak takut sedikit-pun terhadap kalian !”
Kepala desa-pun akhirnya masuk ke dalam gua itu. Tak berapa lama, terdengar jeritan dari dalam gua, lalu keadaan sekitar gua kembali sunyi. Kepala desa tidak pernah keluar dari gua itu lagi.

Keesokan paginya, Nurul bersiap-siap untuk balik ke kota. Tetapi di pintu penginapan, beberapa orang desa termasuk Ali, berdiri menunggunya.
“Nak Nurul, apa Anda mau balik ke kota ?”
Nurul yang melihat itu, merasa bingung.
“I.. iya. Kenapa ?”
Mereka saling berpandangan satu dengan lainnya, lalu kembali memandang Nurul.
“Sebenarnya, kami mau minta maaf. Padahal dulu kamu tinggal di desa ini, tetapi sekarang kami malah memperlakukanmu sebagai orang luar. Selain itu, orang tuamu telah dibunuh kepala desa. Walau kami tidak tahu menahu, tetapi... kami tetap merasa bersalah atas kejadian itu.”
Nurul tertegun sejenak, lalu akhirnya ia tersenyum.
“Sudahlah, yang sudah berlalu biarkan berlalu. Kuakui, aku terkejut mengetahui bahwa bapak dan emakku dibunuh, tetapi itu bukan kesalahan kalian. Mengenai kalian menutup-nutupi kejadian masa lalu juga, itu karena ancaman dari kepala desa.”, lalu wajah Nurul berubah menjadi sedih, “Aku hanya merasa sedih mengingat para korban akibat masalah ini, termasuk teman mainku sejak kecil.”
Ali, yang dari tadi hanya berdiam diri, akhirnya bertanya, “Apakah namanya.. Soleh ?”
“Eh ?”, Nurul terkejut, “Ali, bagaimana kamu...”
Kata-katanya langsung dipotong oleh Ali, “Karena Mbak Nurul menyebut nama itu ketika kemarin malam hendak masuk ke dalam gua.”
Nurul terdiam sejenak.
“Soleh, ia.. menghilang 11 tahun yang lalu. Waktu itu, aku baru berumur 8 tahun, sedang Soleh lebih tua setahun dariku. Kami melanggar aturan, dan main petak umpet setelah maghrib. Aku beruntung, karena mendapat giliran jaga pertama.”, lalu wajah Nurul tampak setengah merenung, “Soleh dan teman-temannya menghilang, dan tidak pernah ditemukan sampai sekarang. Mungkin ia sudah meninggal... tidak, ia sudah meninggal di dalam gua, aku tahu itu.”
“Dia.. cinta pertama Mbak Nurul ya ?”
Mendengar pertanyaan Ali, pipi Nurul langsung memerah, tetapi ia tidak menjawab apa-apa.
Lalu salah seorang penduduk desa yang ada di situ, berkata, “Maksud kedatangan kami pagi ini, selain untuk minta maaf, juga mau bilang pada Nak Nurul : Desa Sumur Batu ini adalah desa Nak Nurul juga. Kapan-pun Nak Nurul mau datang kemari, akan kami terima dengan senang hati.”
Nurul-pun kembali tersenyum.


Epiloque

Beberapa tahun kemudian...
Pada suatu siang yang cerah, tampak 2 orang anak sedang berjalan pulang sekolah. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berhenti sejenak. Anak yang lain bingung melihat temannya itu.
“Fajar, ada apa ?”
Anak bernama Fajar itu menunjuk ke suatu tempat. Temannya menengok ke arah yang ditunjuk oleh Fajar, yang rupanya hutan yang diberi batas tanda larangan masuk.
“Itu khan hutan yang nggak boleh dimasukkin. Kenapa memangnya ?”
Fajar menggeleng, “Bukan, tadi aku liat ada anak kecil sedang berdiri disana.”
“EH ?”, temannya terkejut, “Te.. tetapi itu tidak mungkin ! Bapakku bilang, tempat itu tempat angker. Yang masuk kesana, bisa ilang.”
“Kalau gitu, kenapa anak itu ada disana ?”
Keduanya saling berpandangan, lalu mereka berlari masuk ke dalam hutan...

END ?

_________________
Image
Better weeping because differencies than locked behind a smilling mask. I am an artisan, I colors myself using the colors of my heart.
Image


 
 Profile  
 
 Post subject: Re: (cerpen horor)hide and seek
PostPosted: Sun Apr 08, 2007 3:40 pm 
Offline

Joined: Mon Apr 02, 2007 6:59 pm
Posts: 33
Location: Blkg ranch market jakbar
9/10 =D

_________________

Oh can't you see what love has done to every broken heart
Oh can't you see what love has done for every heart that cries
Love left a window in the skies
And to love I rhapsodize


 
 Profile  
 
 Post subject: Re: (cerpen horor)hide and seek
PostPosted: Mon Apr 09, 2007 7:02 am 
Offline
Site Keeper

Joined: Sun Apr 01, 2007 9:04 pm
Posts: 571
Location: Cage of the Past on Jakarta
yah mu masa commentnya pendek amat.. panjangan lg dunk ach.. biar ntar gw kasi tau temen gw itu sehingga dia tambah semangat. Soalnya dia penulis yg karyanya dah ditolak beberapa kali dan nyerah.. skrg dia jual tulisannya hand to hand atau ditaro di forum forum(gratis).

_________________
Image
Better weeping because differencies than locked behind a smilling mask. I am an artisan, I colors myself using the colors of my heart.
Image


 
 Profile  
 
 Post subject: Re: (cerpen horor)hide and seek
PostPosted: Tue Apr 10, 2007 6:08 am 
Offline

Joined: Mon Apr 02, 2007 6:59 pm
Posts: 33
Location: Blkg ranch market jakbar
Mngkn itu karna gw jarang baca cerita ginian ya o_O

Tapi emang bagus sih.. jalan ceritanya itu menarik. U bilang ke dia aja jgn nyerah, gw suka ceritanya kok..

_________________

Oh can't you see what love has done to every broken heart
Oh can't you see what love has done for every heart that cries
Love left a window in the skies
And to love I rhapsodize


 
 Profile  
 
 Post subject: Re: (cerpen horor)hide and seek
PostPosted: Tue Apr 10, 2007 6:41 am 
Offline
Site Keeper

Joined: Sun Apr 01, 2007 9:04 pm
Posts: 571
Location: Cage of the Past on Jakarta
hihihi, ok deh tq mu Kiss

_________________
Image
Better weeping because differencies than locked behind a smilling mask. I am an artisan, I colors myself using the colors of my heart.
Image


 
 Profile  
 
 Post subject: Re: (cerpen horor)hide and seek
PostPosted: Tue Apr 10, 2007 8:40 am 
Offline

Joined: Mon Apr 02, 2007 8:23 am
Posts: 126
Location: Kebanyakan di pulau kapuk ^_^
ceritanya seru

bikin penasaran bacanya hahaha

_________________
Image
Take the Magic: The Gathering 'What Color Are You?' Quiz.

Let The Colour Fill Your Day


 
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 7 posts ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 2 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
cron
Powered by phpBB © 2002, 2006 phpBB Group
[ Time : 0.024s | 12 Queries | GZIP : Off ]