Enter Chat Room
 
Member Online: 0
Guest Online: 7
clan Tree Tag Grand Master T2GM
Forum > General Discussion > (story) Zynith
Add New Topic    Reply To Topic
AuthorPost
rosedragon
Posts:604
Super Infernal
Post Date: 14 Feb 2007 (03:15)

Sebenarnya, judulnya ga cocok.. dulu mungkin cocok, tapi karena gw dah mutusin semua cerita fantasi gw berada di dunia yg berinti zynith, skrg dah ga cocok lg. Gw nulis satu prolognya aja 3 hari, satu chapter seminggu.. :D

Cerita ini gw bikin bertahun-tahun-tahun-tahun yang lalu, jauh lbh tua dr windwings. Revisinya dah berkali2 mulai dr gw smp sbg role playing novel (gw masukin temen2 gw kesitu, karakternya mereka yg bikin), game rpg maker, sampe ditulis jd cerita 2 kali lg.

Inti ceritanya tetap sama seh.. ^^ Ntar gw tulis di akhir chapter 1.

Kalo dibikin trilogi keren neh... idenya panjang seh.. tp kalo lum ada komp sendiri susah edit2na, pengen sempurna seh ^^

-------------------------
Prolog

Aenasan 4207 AZC


Sepasang bulan Lunitari dan Nuitari bersinar di langit benua Nalidia yang bersih. Namun hutan WinElm menolak cahaya perak itu, tetap gelap pekat dalam kerimbunan pohon-pohon Elm dan Pinus yang menjulang tinggi.

Sesosok manusia yang mengenakan baju baja hitam diatas pakaian berwarna ungu melangkah cepat menerobos hutan. Sekilas baju bajanya membuat pria itu terlihat seperti seekor naga karena helm kepala naga, ornamen sayap biru pekat, dan ekor baja yang berat di punggungnya.

Pria itu tiba-tiba berhenti diam, kegelapan hutan tidak menghalanginya merasakan kehadiran sekelompok hawa pembunuh di depannya. Tapi ia tidak bisa kembali, apapun resikonya ia harus terus maju, secepatnya. Dengan ketenangan yang elegan ia berdiri lalu mengepalkan kedua tangannya, tiga bilah pisau berkilat berbentuk seperti cakar muncul di kedua pergelangan tangan baju bajanya.

<Dimana harga diri kalian sehingga melanggar sumpah leluhur dengan cara sememalukan ini?> suara pikiran pria itu menyentuh benak-benak tiap makhluk hidup di sekitarnya, memberi mereka informasi bernada dingin ke dalam fungsi pendengaran mereka.

Hewan-hewan terbangun dan berceloteh memprotes sambil kabur dari sana, merekapun dapat merasakan hawa haus darah yang datang dari segerombolan monster, yang kini melangkah keluar dari persembunyian mereka dan menggeram menantang si manusia.

<Tahu apa kau, budak?! Harga diri kami adalah membunuh manusia-manusia kotor yang sok ikut campur sepertimu!> raung salah satu dari empat monster itu.

Keempat monster itu adalah bugbear, sosok goblin yang berwujud seperti manusia kerdil yang kekar dan berbulu serta bercakar seperti seekor beruang. Muka mereka jelek dengan hidung lancip seperti paruh kakatua dan telinga besar lancip yang rompal. Bulu mereka berwarna coklat tua dan abu-abu sementara kulit mereka berwarna abu-abu seperti besi tua.

Mereka juga mengenakan hel-helm bermotif dari logam obsidian dan pelindung bahu kanan yang memiliki simbol rumit lambang klan mereka. Tubuh mereka tidak memakai pelindung lainnya, bulu tebal mereka sudah cukup berat.

Manusia itu diam siaga, matanya terus memperhatikan segala arah sementara telinganya berjuang mendengar bunyi apapun. Ia tahu, lawannya lebih dari sekadar empat prajurit terbaik ras goblin.

Keempat bugbear menyerang bersamaan, tidak membiarkan manusia itu berkonsentrasi pada sekitarnya. Cakar alamiah dan cakar logam beradu, memperdengarkan deritan-deritan menyakitkan telinga tiap kali pemilik-pemiliknya berusaha mendorong dan menangkis.

Pria itu sadar pertarungan berlangsung lambat dan ia tidak punya banyak waktu. Segera ia bersalto ke belakang, mengucapkan sebaris mantra sambil megangkat tangan kanannya. Sihir berbentuk cahaya ungu berpendar di telapak tangan kanannya lalu menghilang. Saat itu juga pria itu merasakan kekuatan sihirnya mengalir keluar seperti air deras dan ia jatuh berlutut.

Pria itu sadar telah dijebak dan sudah terlambat untuk menyesal. Tersembunyi di balik lebatnya hutan, kawanan magic pot menyedot seluruh sihirnya. Siapapun yang melindungi mereka dari indera-indera terlatih pria itu, jelas ahli ilusi yang sangat kuat dan berpengalaman.

Tapi monster-monster itu salah jika mengira manusia ini hanya bisa menimbulkan kerusakan dengan sihir semata. Tetap berwajah dingin dan tenang, pria itu menerjang semua magic pot-- monster berwuud berbagai macam pot dari guci hingga vas dengan lidah dan sepasang mata diantara mulut pot dengan tutupnya-- yang lemah lalu mencakari para bugbear dengan serangkaian serangan yang cepat namuin terkendali dan dalam.

Sebelum mayat bugbear terakhir menyentuh tanah, pria itu telah berlari pergi. Lawannya sisa satu, sosok yang tetap bersembunyi dan mengawasi tidak terlalu jauh entah di sebelah mana, si ahli ilusi. Tapi pria itu tahu makhluk itu pasti jauh lebih kuat dari perangkap kotornya.

<Khelben Arunsun Kelso..> desis seekor monster setinggi sepuluh kaki yang mendadak ada di hadapan pria itu. Monster itu seperti bunglon yang berdiri diatas dua kaki, lidahnya yang panjang dan lengket menjulur keluar, ekornya melingkar seperti spiral, dan ia memiliki sepasang mata biru tua yang sangat besar dan sepasang lagi yang lebih kecil di kiri kanan puncak kepalanya.

<Shougn Danba,> sahut Khelben; pria itu-- tetap tenang dan dingin walau dalam hati ia mulai memutar otak. Danba si monster bunglon adalah salah satu monster terkuat, apalagi karena kekuatan sihir Khelben belum pulih sedikitpun.

<Kau sudah lelah jadi pesuruh naga bukan, wahai Khelben... Menyerahlah manusia, tugasmu hanya akan membawa malapetaka bagi kita semua, rasmu dan ras kami. Akan kuberi kau tidur panjang yang tenang.>

<Aku sudah bersumpah pada Lord Falakir. Kau juga tahu perbuatanmu memalukan, Shogun Danba.>

<Kami yakin dengan keputusan kami manusia. Kami bersumpah setia pada tiap Yue algiz bukan untuk diperintah oleh manusia,> kata Danba makin pelan. <Tapi untuk bebas dari manusia!> raung monster itu lalu menyerang denagn kuku-kuku tangannya yang beracun. Kecepatannya setada dengan Khelben, tidak selelet para bugbear. Untunglah Khelben tidak lengah dengan percakapan jebakan itu dan berhasil berkelit.

Perundingan berakhir, putus Khelben. Sama seperti hari itu, bahkan Lord Falakir sendiri tidak mampu mengubah pandangan para shogun. Khelben tidak menyangka akan bertemu salah satunya dari mereka disini, ini menandakan waktunya tinggal sedikit. Setidaknya, saat ini Khelben merasa keberuntungan masih berada di pihaknya karena Danba menganggap remeh dirinya.

Membalas serangan Danba, Khelben meloncat hingga hampir menyentuh atap hutan lalu menggunakan beratnya sedemikian rupa untuk menghujam turun dengan cakar-cakar logamnya mengarah ke kepala Danba di bawah. Danba bersalto mundur lalu segera menghujamkan kuku-kuku beracunnya ke arah Khelben yang baru saja mendarat. Kuku-kuku itu berbunyi menderit ketika mengenai pelat logam di bahu Khelben.

Setelah mencabut cakar-cakar logamnya dari tanah, Khelben segera menerjang ke arah Danba namun terpaksa meloncat mundur karena monster itu siap mengayunkan lengan kirinya yang juga bersenjatakan kuku-kuku beracun.

Danba membuka mulutnya, lidahnya yang panjang dan lengket segera melesat dan membelit leher Khelben. Karena kedua kakinya belum menginjak tanah dengan kokoh, dengan mudah Khelben ditarik lidah Danba. Khelben hendak menyayat lidah itu ketika Danba melepaskan belitannya lalu menampar Khelben di perutnya yang tidak terlindung pelat logam.

Khelben terlontar hingga menubruk salah satu pohon, daun-daun dan buah pinus berjatuhan di sisinya. Perut Khelben terluka cuku[p parah walau racun cakar Danba belum mempengaruhinya.

Tanpa memberikan kesempatan bangkit bagi Khelben, Danba menerjang. Cakar-cakarnya melesak ke dalam pohon ketika Khelben melontarkan dirinya menjauh. Pohon itu rubuh ketika Danba menarik kembali tangannya.

Khelben berusaha membalas serangan Danba, hanya untuk mendapati kecekatan monster itu dan cakar beracunnya. Perlahan Khelben menjadi bulan-bulanan, terpaksa menarik kembali cakar logamnya setiap kali Danba siap mencakarnya ementara monster itu sedikit demi sedikit menambah jumlah luka pada tubuh Khelben.

Pukulan terakhir Danba menyebabkan Khelben terguling-guling ke lumpur lalu terkulai disana. Danba tersenyum lebar dan melangkah mendekat.

<Tanpa sihir, kalian manusia tidak ada apa-apanya.>

Danba berjongkok diatas Khelben yang terkulai di atas lumpur dengan nafas berat. Monster itu meraih leher Khelben, siap membenamkan kuku-kukunya ke leher manusia itu. <Tidurlah, Khelben.>

Khelben menarik pedang hitamnya yang tersembunyi dari sisi tubuhnya dan menghujam jantung Danba lalu menendang tubuh monster itu. Danba tidak mampu menahan jatuhnya, kekuatan kegelapan dari pedang itu menenggelamkan jiwanya.

<Sihir!? Tidak mungkin!> pekik Danba serak.

<Memang bukan sihirku, tapi pedang ini. Kau lengah,> jawab Khelben sambil bangkit berdiri dengan mudah seakan ia tidak pernah terluka parah. Ia sering mendapati luka yang jauh lebih parah dari ini dan ia telah belajar mengatasi segala macam rasa sakit seakan ia mati rasa. Kesakitan sudah tidak mempengaruhi kekuatan tempurnya, ia hanya berpura-pura sekarat.

<Keberadaan anak itu hanya akan menimbulkan malapetaka, Khelben, kau tahu berapa banyak pertempuran dan kematian yang akan terjadi...>

<Aku sudah bersumpah dengan jiwaku pada ayahnya,> jawab Khelben tanpa emosi sambil kembali menyarungkan dan menyembunyikan pedang hitamnya lalu melangkah pergi dari pandangan Danba.

<Ha, ha, ha... ternyata benar kalian dragoon budak yang tidak pernah bisa melawan... Tapi kau tidak akan berhasil, kami sudah mengutukmu...> komentar Danba sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Bukannya tidak bisa melawan, tapi kami telah lupa apa itu kehendak bebas, tambah Khelben di dalam hatinya.

[Edited on 14 Feb 2007 (04:57)]


My Site
Life because you enjoying life, not because you must life. Because life is a gift not a burden.
rosedragon
Posts:604
Super Infernal
Post Date: 14 Feb 2007 (19:10)

Chapter 1 : Fate's Calls


Entah mengapa rasanya ingin menangis keras-keras. Seperti waktu-waktu sebelumnya aku terbangun dengan depresi menguasai diriku. Aku tidak tahu mengapa tapi ini membuatku tidak bisa tidur nyenyak, takut subuhnya terbangun seperti sekarang ini.

Namaku Karen, umurku delapan belas tahun, seorang manusia, dan aku tingga; sendiri di desa WinElm. Rambutku berwarna merah dengan poni kuning di sisi kiri kanan dahiku dan mataku berwarna ungu. Aku tidak tahu mengapa aku memiliki rupa seaneh ini tapi aku sudah menerima kenyataan kalau aku bukan penduduk asli desa ini dari setahun yang lalu. Setidaknya kulitku yang kuning kecoklatan dan tinggi 166 sentimeterku normal.

Setahun yang lalu nenek yang merawatku meninggal, setelah menuliskan surat warisan yang memberitahukan kalau ia bukan ibu kandungku. Ia tidak menyebutkan bagaimana ia menemukanku, jadi kusimpulkan orang tuaku sudah lama meninggal.

Tapi bukan itu yang membuatku terbangun dengan emosi tak terkontrol. Bukan juga kesendirianku, sudah keputusanku untuk tetap sebagai diriku sendiri walau mereka mencapku aneh. Entahlah, aku tidak bisa menemukan asal depresi yang selalu memadamkan tekad dan pendirianku ini.

Desa WinElm tempatku tinggal ini adalah desa kecil yang indah dengan populasi lima belas keluarga di bawah atap-atap rumah yang terbuat sepenuhnya dari kayu elm. Tiap rumah memiliki keunikan sendiri tapi semuanya sama-sama sederhana dan kecil, sekadar kotak beratap trapesium untuk berlindung dari cuaca, dengan enam atau lebih tiang besar kokoh menyangga dasarnya setengah meter di atas tanah untuk mengatasi banjir.

Setahun sekali pada bulan chaotic spring lautan meluap dan menggenangi dataran-dataran rendah di dunia Aenasan selama beberapa hari atau minggu. Kejadian ini terjadi karena gerhana lunatic, peristiwa ketika kedua bulan-- Lunitari yang seperti perak dan Nuitari yang hitam kelam tak terlihat mata telanjang-- sejajar dan menarik air laut dengan segenap kekuatan.

Penduduk desa yang independent ini bermata pencaharian berburu dan berkebun, bukan berkebun biasa tapi memetik hasil hutan WinElm yang subur. Di benua Nalidia ini, kami tidak mengenal pemerintahan dan tentara. Kami hidup tentram diantara puluhan desa manusia lainnya juga satu dua desa yang dihuni kawanan manusia kadal yang ahli membuat kerajinan tangan- kerajinan tangan unik, seunik corak tubuh mereka. Aku tidak bertanya-tanya mengapa hidup bisa sesimpel ini, aku hanya orang desa yang tidak tahu apa-apa, layaknya orang-orang desa lainnya.

WinElm memiliki kuburan sendiri di tepi timur tapi kami tidak memiliki pendeta atau kuil sendiri. Setiap enam hari sekali kami berbondong-bondong ke kuil di desa sebelah. Aku senang tiap saat itu karena semua orang terlihat ramah dan ceria. Aku juga senang bisa mendengarkan kisah-kisah gaib tentang dewa-dewa dan utusan-utusannya yang membasmi iblis dan monster dari benua Nalidia ini. Aku bersyukur bisa berburu di hutan tanpa takut disergap makhluk-makhluk kegelapan itu, para pendatang dari benua sebelah sering mengeluhkan soal monster-monster.

Baru jam tiga, matahari saja belum terbangun. Dan bulan hitam Nuitari terlihat di langit, menurut orang-orang itu berarti akan ada kejadian yang benar-benar buruk. Ah takhayul, sama takhayulnya dengan kabar permata merah di dahi kadal cicos bisa membawa keberuntungan. Setidaknya, mereka yang menjual permata merah itu bisa mendapat banyak uang.

Aku tidak akan bisa tidur lagi, kurasa subuh ini sebaiknya kucoba mengubah takhayul Nuitari menjadi keberuntunganku. Yap, pakaian berburu dari kulit sudah kukenakan dan senapan panahku sudah siap. Langitnya terang tapi aku tahu hutan WindElm tidak pernah cukup terang, bahkan pada siang hari. Siluet bayangan hutan sudah cukup untuk memanduku, aku pemburu terbaik di WinElm walau pria-pria sok dewasa itu tidak akan pernah mau mengakuinya.

Aku tidak menguasai keahlian-keahlian berburu sebaik pria-pria itu, tapi entah bagaimana aku seakan bisa menyadari keberadaan hewan-hewan yang bersembunyi di sekitarku. Andai nenek tahu hal ini, mungkin ia sudah meinggal lebih awal, haha...

Jejak cicos. Kadal seukuran ayam dewasa itu berjalan dengan dua kaki, memiliki telinga panjang seperti milik kelinci yang peka, dan ujung ekor berbentuk hati. Cicos lebih brat dari hewan-hewan lainnya karena pelat-pelat oranye yang menutupi puncak kepala, punggung, hingga ke bagian atas ekor mereka. Pelat-pelat itu terbuat dari tulang mereka dan biasa orang-orang jual sebagai ukiran walau jauh lebih murah dari permata merah kadal-kadal itu. Orang-orang bisa memungut bangkai cicos tapi selalu tanpa permata, seakan kadal-kadal itu menyembunyikan permata mereka sebelum mati.

Jejak-jejak itu membawaku makin naik ke bukit-bukit terjal hutan WinElm. Tapi aku tidak takut jatuh walau pernah merasakan betapa sakitnya jatuh dan terkilir. Aku suka melihat pemandangan dan langit dari ketinggian. Seakan aku dilahirkan dengan sayap, haha...

Suara ranting yang terinjak menyentakku keluar dari lamunanku. Dari balik hutan terlihat samar sosok besar dengan cakar berkilat. Beruang? Aku melihat ke bawah, terlalu curam untuk berlari turun atau melompat. Aku melangkah mundur perlahan dengan senapan panah siap, walau yakin tidak akan bisa melumpuhkan beruang itu.

Karena terburu-buru aku terantuk akar. Sebatang panah melesat ke sosok itu dan berdenting terpental sebelum aku benar-benar kehilangan keseimbangan dan menjatuhkan senapanku. Berdenting? Suara logam beradu? Sebelum aku sempat memikirkan jawabannya, sosok itu menangkapku dan menarikku hingga aku mendapatkan keseimbanganku kembali.

Penyelamatku seorang pria berbaju baja dengan mata hitam dan rambut panjang hitam. Baju baja hitamnya unik, dipenuhi ukiran aneh berwarna perak juga emas, dan berbentuk seperti naga, lengkap dengan helm kepala naga, sayap biru keunguan, dan ekor tebal yang terlihat berat. Kesan pertamaku pria ini dingin dan menakutkan, terutama karena tiga pasang cakar logam di kedua pergelangan tangannya itu, lebih seram dari dugaan awalku. Ia bukan beruang tapi pria asing ini terlihat lebih ganas dari beruang.

"Trims.. daagh, aku kembali ke desa deh," ucapku tergagap walau berusaha seyakin mungkin.

"Jangan. Ayo ikut aku," kata pria itu dengan suara berbisik yang dingin seperti hawa bongkahan es. Aku tidak bisa apa-apa, tangannya mencengkramku dengan erat. Pasrah, aku dibawanya ke puncak bukit.

[Edited on 28 Feb 2007 (19:06)]


My Site
Life because you enjoying life, not because you must life. Because life is a gift not a burden.
rosedragon
Posts:604
Super Infernal
Post Date: 28 Feb 2007 (19:05)

Pria itu berdiri diam seperti patung, matanya memandang desa WinElm di bawah tanpa emosi. Cengkramannya tidak mengendur sedikitpun. Penasaran dengan apa yang menarik perhatiannya, aku ikut memandang ke arah desa, tidak menemukan apapun yang berbeda.

"Lihat di tepi barat."

Terlihat gerakan samar di arah yang pria itu tunjukan. Matahari belum menampakkan diri tapi langit telah cukup terang dengan semburat warna kebiruan. Perlahan sosok-sosok itu keluar dari balik hutan barat; sekelompok prajurit. Lalu pimpinan pasukan itu mengangkat tangannya dan lebih banyak prajurit keluar, menyerbu ke arah desaku...

"Aku harus kembali!" teriakku sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria aneh itu.

"Tetap disini," perintahnya tanpa menatapku.

"Aku harus memperingatkan mereka! Mengapa kau menahanku!?" protesku.

"Karena, yang mereka incar adalah dirimu," jawab pria itu tegas sambil menatapku dalam-dalam, sekilas terpancar kelegaan di matanya walaupun aku tidak yakin akan apa yg kulihat disana. Kata-katanya tidak masuk akal, untuk apa mereka mengincarku? Aku bukan siapa-siapa!

"Kalau kau kembalipun, desa itu beserta penduduknya tetap akan musnah. Ikut aku dan suatu hari kau akan lebih kuat dari mereka."

"Kalau aku tidak mau?" tantangku.

"Aku tidak bisa memberimu pilihan. Tapi ini juga bukan perintah, Lady Karen Kloviaz," ucap pria itu sambil menunduk hormat, tangan kirinya diletakkan sejenak di atas perutnya yang terluka.

"Hah?"

Pria itu tidak menjawab keherananku, ia segera menuntunku masuk lebih dalam ke hutan. Lady? Bukankah itu panggilan untuk umm... bangsawan? Darimana ia tahu namaku? Bahkan nama belakang yang tidak kuketahui... Pertanyaan-pertanyaan itu berputar sementara aku terpaksa mengikutinya menembus hutan dengan langkah-langkah cepat. Ia jelas tidak mengenal hutan ini, beberapa kali ia terantuk atau memutar terlalu jauh walau ia tidak pernah sampai terjatuh.

"Kemana kita hendak pergi? Lepaskan tanganmu, aku mengenal hutan ini dengan baik, biarkan aku memandu kita."

Pria itu berhenti. Ia terdiam dan menatapku, pandangannya tetap dingin menyembunyikan segala emosinya walau aku tahu ia sedang bimbang mempertimbangkan tawaranku.

"Kalaupun aku kabur, sudah terlambat bukan?" kataku berusaha yakin.

"Kita harus terus ke selatan, demi keselamatanmu..." katanya lalu melepaskan cengkaramannya dengan agak ragu.

"Ikuti aku!"

Entahlah siapa orang ini dan apa tujuannya, tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Buat apa aku mengecohnya kalau aku tidak punya rumah untuk kembali? Itupun kalau aku bisa mengecohnya, ia prajurit terlatih. Atau mungkin lebih tepat kusebut ksatria, baju bajanya yang seperti naga begitu bagus dan mengkilap walau darah dan lumpur kering melekat.

Ia mengawasi sekeliling kami tanpa memperlambat langkahnya. Apakah ia pikir prajurit-prajurit asing itu mampu menembus hutan dengan mudah? Atau mereka menaruh penjaga di hutan yang sangat lebat ini? Hutan ini melingkupi bagian selatan, aku tidak tahu seberapa jauh tepatnya, namun satu hari tidak akan cukup.

Kami terus berjalan tanpa henti hingga siang hari. Berkas-berkas sinar berusaha menyusup kedalam hutan walau tetap tidak mampu mencapai tanah. Aku berhenti, perutku sakit karena belum makan dari subuh dan kakiku lelah. Kupikir aku hanya akan menjelajah hutan selama beberapa jam.

Tanpa bicara pria itu menggendongku. Ya ampun... di tengah hutan aku digendong oleh pria asing, tanpa tahu apapun! Tanpa kesulitan pria itu berlari dipandu cahaya redup, sambil menggendongku dengan kedua tangannya yang kekar. Cakar-cakar tajam di pergelangan tangannya sudah masuk ke balik lengan baju bajanya. Matanya yang terlatih memperhatikan sekitar, juga tanah di bawah kakinya. Walau terkadang ia tetap terantuk, keseimbangannya tidak pernah hilang. Terkadang ia terlihat sempoyongan seperti kurang makan atau mungkin kehilangan banyak darah karena luka besar di perutnya itu. Darimanakah ia berasal? Dengan siapa ia sempat bertarung?

Mungkin sudah sore hari ketika ia membawaku memasuki celah diantara pohon-pohon besar. Ia tidak mengenal hutan ini tapi mengenal celah rahasia itu, yang akupun tidak tahu. Lubangnya tertutup tanaman rambat an lumut sedemikian rupa.

Aku tambah kaget karena di dalamnya terdapat sebua hgua sempit yang terus turun kebawah, dimana sinar kebiruan memancar lembut. Pria itu menurunkanku lalu menggeser salah satu batu. Di baliknya terdapat sebuah ransel besar. Ia mengambil roti pipih dan botol minum dari kulit lalu memberikannya padaku. Ia juga mengambil sebuah botol kecil ramuan berbau dan menenggak habis isinya, dari baunya yang menyengat kuduga itu penangkal racun, mungkin ia sempoyongan karena terkena pengaruh racun. Lalu setelah aku duduk di salah satu batu, barulah ia duduk, menungguku? Kami terdiam beberapa saat sementara aku makan, lalu saat aku selesai makan dan minum, ia berlutut di depanku.

"Nama hamba Khelben Arunsun Kelso, hamba pelayan dari almarhum ayah nona. Maafkan kekasaran hamba, hamba tidak bisa membiarkan nona terluka. Mulai hari ini hamba akan memandu nona, hingga amanat ayah nona tercapai."

"Siapa ayahku?" potongku tidak mampu membendung pertanyaan-pertanyaanku lebih lama. "Mengapa aku diincar? Kemana kita hendak pergi?"

"Pertanyaan-pertanyaan itu akan hamba jawab di waktu yang tepat. Maaf, hamba tidak bisa menjawabnya sekarang."

"Kalau begitu aku tidak akan ikut. Karena aku nonamu, tidak sepantasnya kau memaksaku!"seruku marah, siapapun orang ini, aku tidak mau dipermainkan seperti ini.

"Sayangnya, hal itu tidak mungkin terjadi. Selama nona belum bersikap dewasa dan menyadari peran nona, hamba terpaksa mengatur tindakan nona," kata Khelben tersenyum dingin, matanya memancarkan tekad tak terpatahkan. "Mari kita berangkat sekarang, sebelum lawan melacak kita dengan anjing-anjing atau makhluk yang lebih buruk lagi."

Andai aku tidak percaya diriku dikejar-kejar, andai aku tidak melihat sendiri desaku diserang, andai aku punya kerabat di luar WinElm, tentu aku sudah menolak habis-habisan. Tapi aku tidak memiliki pilihan, jalan-jalan masa depan di hadapanku telah hancur luruh, meninggalkanku dalam kabut takdir bersama pria ini.

Setelah mendesah panjang aku bangkit berdiri, yang lalu disusul oleh Khelben. ia mengeluarkan dua buah kain dari ransel dan menyerahkan salah satu kepadaku. Kain yang tebal dan lembut, seperti beludru.

"Di bawah sana dingin."

Aku mengikatnya di punggung, tidak tahu bagaimana seharusnya memakai jubah pengembara ini. Tetap dengan ekspresi yang sama, Khelben membetulkan posisi kain itu hingga tubuh sampai lututku tertutup jubah tapi kedua tanganku tetap bebas. Ia lalu mengenakan jubahnya sendiri, bukan untuk mengatasi dingin, tapi untuk menutupi baju bajanya termasuk helm naganya. Setelah menyandang ransel di bahu kirinya, ia memimpin jalan turun makin ke dalam gua.

Walau jalan turunnya curam, batu-batu di bawah kakiku kokoh. Udaranya lembab dan statis tapi terasa menenangkan dengan aroma lembut yang asing. Setelah beberapa saat, kami keluar dari lorong yang sempit, mendapati diri kami berada di tepian curam sebuah gua besar yang dipenuhi lumut yang memancarkan sinar kebiruan.

Khelben memintaku berjalan di depannya agar ia bisa segera menangkapku bila aku terjatuh. Perlahan kami mengikuti turunan melingkar yang seperti jalan setapak hingga sampai ke dasar gua tanpa terpeleset sekalipun, lumut asing itu tidak licin.

Hanya ada mata air jernih di dasar sini, apakah kami akan bersembunyi disini? Aku tidak bertanya, lumut biru menarik perhatianku. Aku mencungkil lumut di dinding dengan jariku, dinginnya menggelitik jariku. Tampaknya, lumut inilah yang menebarkan cahaya biru dan aroma lembut. Setelah kuamati dari dekat, aku terkesan dengan bentuk uniknya yang seperti hati biru muda dengan bercak-bercak tua seperti cipratan cat sang pencipta. Lumut kecil yang indah itu luruh menjadi serbuk ketika kusentuh, keindahan yang sangat rapuh.

Angin yang tiba-tiba berhembus mengalihkan perhatianku. Aku berbalik memandang mata air, airnya yang jernih bergejolak membentuk cincin tipis dengan diameter sepanjang jika aku merenggangkan tangan di kedua sisiku. Gelombang air berikutnya naik dan mempertebal cincin air itu, disusul oleh gelombang-gelombang berikutnya. Setelah itu, berkas-berkas sinar biru muda muncul dari depan cincin hingga ke tengah lingkaran.

"Sihir!" seruku kagum. Baru kali ini aku menyaksikan sendiri hal ajaib seperti ini. Khelben tersenyum kecil walau wajahnya tetap kaku dan dingin. Aku segera menutup mulutku yang menganga dan berusaha kembali bersikap wajar, merasa malu ditatap sepert itu. "Bagaimana kau melakukannya?"

"Mata air ini mengandung sihir tertentu, aku mengetahui cara memanggilnya. Ayo!"

"Masuk kesana?" tanyaku setelah terbengong beberapa saat memikirkan maksudnya.

"Ya, itu gerbang teleportasi."

Aku terbingung dengan kata asing yang ia ucapkan, tapi tidak sempat bertanya karena ia telah mendorongku masuk. Sekeliliingku dipenuhi energi biru yang mengalir berputar-putar, melewati tubuhku seakan aku tidak lebih dari sesosok bayangan. Telingaku dipenuhi suara seperti gemuruh air terjun. Sedetik kemudian semua itu lenyap seakan disedot sebuah lubang di belakangku dan aku mendapati diriku berdiri di tengah halaman sebuah istana kuno.

***

Khelben terdiam di hadapan gerbang, batinnya tertekan dengan fakta tajam yang menusuknya; ia butuh bermenit-menit setengah mati meraih energi sihirnya, menghabiskan lebih lama lagi untuk mengumpulkan cukup energi sebelum bisa memanipulasi sihir kuno mata air itu. Hal yang biasanya ia lakukan dalam beberapa detik tanpa susah payah... Ia berharap pengaruh para magic pot yang lalu segera lepas darinya lalu melangkah ke dalam gerbang.


My Site
Life because you enjoying life, not because you must life. Because life is a gift not a burden.
rosedragon
Posts:604
Super Infernal
Post Date: 28 Feb 2007 (19:18)

Ok gw janji kasi bocoran inti ceritanya....

Ini kisah perjalanan Karen, yg mengira dirinya hanya manusia biasa. Lalu karena kondisi politik, bawahan setia dari ayahnya menjemputnya, mengajarinya sihir dan hal2 asing lainnya, dan membawanya dalam perjalanan mengumpulkan sejumlah kristal elemen. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan banyak ras, kawan atau lawan juga sobat2 yang ikut menemani perjalanan mereka dengan tujuan masing-masing.

Kristal2 elemen itu menyimpan masa lalu Karen dan kekuatannya. Perlahan Karen mengetahui kalau ayahnya seekor naga perkasa yang menjadi semacam 'raja' dan 'penjaga' bulan Lunitari, dimana para monster terganas tinggal. Takdir menuntut Karen untuk mengklaim posisinya dan menghentikan para monster yang mulai melupakan perjanjian rumit yang telah dibuat ribuan tahun yang lalu.

Keberadaan Karen dan identitasnya, membuat berbagai konflik di kehidupan manusia dan monster, bahkan lalu mempengaruhi seluruh dunia. Tapi bukan itu saja yang mempersulit jalan yang harus diambil Karen, ada banyak konflik yg terjadi sehubungan dengan inti kekuatan dunia yg disebut Zynith, penyerbuan para monster air setahun sekali, usaha para iblis yang penuh dendam karena derita di benua yang sangat tak bersahabat, kendala kepunahan beberapa ras pimpinan Karen, dan hal-hal lainnya. Karen tidak bisa sendiri untuk menghadapi berbagai kelompok di sektiarnya, dari yang menggunakan sihir terkuat, fisik terkuat, kelincahan tercepat, hingga teknologi tercanggih.. ia butuh aliansi sementara pengkhianatanpun membayang dengan sabit mautnya.


My Site
Life because you enjoying life, not because you must life. Because life is a gift not a burden.
Add New Topic    Reply To Topic
Developed by: superhero, founder of clan T2GM Copyrighted © 2006 - 2025
Report broken link to: hendra.soesanto@gmail.com
This page opened in 0.04 seconds