rosedragon Posts:604 Super Infernal
 |
 | |
Post Date: 22 Nov 2006 (09:30) |
Berjalan di tengah kota, aku tersenyum memandang sekitarku. Kicauan burung, gelak hidup manusia, serta arsitektur beton yang diselingi sedikit hijau tetumbuhan. Kunikmati tiap tarikan nafasku, menikmati kehidupan apa adanya, dengan seluruh 'warna'nya. Merasa cukup dan penuh syukur untuk hal-hal yang baik dan buruk membawa damai, memasrahkan hal-hal yang tak terjawab dan tak terselesaikan di tangan Sang pencipta.
Tiba-tiba aku merasa sesuatu yang ganjil. Lalu sejenak, lebih singkat dari kedipan mata, semua menggelap hingga sangat gelap tak terlihat apa-apa, pekat tanpa sinar.
Ketika kegelapan itu hilang, aku terbangun di dunia lain. Semua tanpak berkabut dan tidak jelas, aku bingung akan melangkah kemana. Nafasku terasa berat dan ketakutan mulai mencengkramku. Manusia-manusia di sekelilingku sekarang terlihat buas dan biadab, hewan-hewan menunggu bangkai, dan tetumbuhan meneriakan darah.
Aku mulai berlari tanpa arah, aku dapat merasakan suatu monster mengerikan memperhatikanku. 'Bangun, ini cuma mimpi,' kataku pada diri sendiri. Tapi keyakinan itu lepas dari tanganku seperti nola berminyak dan menggelinding hilang ke dalam kabut, meninggalkan keputus asaan dalam diriku.
Lalu aku ingat hal ini pernah terjadi sebelumnya. Aku berusaha menghibur diriku sendiri, menasihati diriku sendiri, dan mengumpulkan kembali pecahan tekad dan keyakinanku. Tapi seperti yang terjadi sebelumnya, semua itu lepas dari tanganku dan menggelinding lenyap.
Panik dan tertekan, aku mencari jalan hingga ke perpustakaan, tetap diikuti dan diawasi sang monster. Bergegas kuambil buku-buku berkekuatan, kubaca, dan kuterapkan tapi mimpi buruk ini tak kunjung hilang.
Aku berlari mencari teman-temanku, kutemukan mereka dan bergegas kuminta bantuan mereka sambil terengah-engah dan menghapus keringat yang mengaburkan mataku. Mereka tidak begitu mengerti penjelasanku dan berlaku seakan tidak ada keanehan yang terjadi. Aku menegakkan tubuhku dan menatap mereka, yang kulihat bukanlah teman-temanku melainkan manusia-manusia tak berwajah.
Kembali aku berlari dan terus berlari walau seluruh tubuhku nyeri, walau aku tidak tahu harus kemana. ya Tuhan, aku hanya ingin keluar dari mimpi buruk ini... Ah, rasanya Tuhan pun menghilang dalam kabut, seperti bola-bola itu...
Pada akhirnya aku jatuh terkulai di tengah kabut, tidak mampu untuk berjuang lagi, bahkan untuk merayappun aku tidak mampu. Hanya monster itu yang terlihat di sekitarku, yang terus mendekat dan terkekeh mengerikan. Kupejamkan mataku dari kengerian walau kengerian itu sudah meracuni seluruh pembuluh darah dan benakku. Ya Tuhan... ampuni aku...
-------------------------------------------------------
Setelah beberapa saat aku membuka mataku, berpura-pura siap menghadapi kengerian yang lebih dahsyat. Tapi kutemukan diriku berada kembali di dunia penuh warna dengan teman-temanku berdiri mencemaskan keadaanku.
Kutemukan bola-bola kaca yang pecah tidak jauh dari tempatku terkulai.Kukumpulkan semua pecahan bola-bola itu; keyakinan, rasa percaya diri, integritas, tekad, jati diri, kedamaian, dan kebijaksanaan atau entah namanya untuk manfaat semua kata-kata bijak yang kupelajari. Satu persatu kurangkai kembali dan akupun kembali menjalani hidup seperti biasa.
Walau kutahu suatu hari nanti mimpi buruk itu akan datang lagi...
-------------------------------------------------------
Cerita tersebut merupakan hiperbola dr situasi nyata, dgn penggambaran horor seperti di film/game silent hill.
-------------------------------------------------------
 Life because you enjoying life, not because you must life. Because life is a gift not a burden. |